Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Wednesday, 30 November 2011

“Nada Rindu Untuk Ibu”


Ibu pernah berkata,

Suka duka milik kita bersama

Jangan dimamah sendiri, gerogoti hati

Ibu juga pernah katakan,

Gagal adalah kunci keberhasilan

Tetaplah terjang segala rintangan

Ah, Kala kulunglai menyapih duka

ingin aku kembali ke pelukannya

Dengarkan segala petuahnya

Dalam diam tak banyak Tanya

Ibu, kusulam keadaan di antara tangisku

Kucurahkan segala rasa dalam puisiku

Namun... nada rindu di hatiku

Hanya untuk ibu…..

Nurul Latifah (VII.B

Monday, 4 October 2010

"Bunga Semusim"

Hey, Siapakah itu di sana?

Tersenyum ceria dengan binar wajah bahagia

Tangan melambai dengan anggunnya

Nada syahdu penuh asa terucap penuh makna

"Aku datang dan mari bercengkrama bersama."



Bagai bunga matahari yang terpukau pada sang surya

Kami pun melonjak gembira...

Bergayut mesra pada serangkaian asa

Terima kasih, kawan...

Bak serumpun mawar di taman gersang

T'lah kau sibak hidup kami nan usang

Ah,Sering kami tersedak karena bimbang

Tak bisa kami balas dengan uang atau barang

Memang, meski hanya untuk semusim engkau datang

Namun benih kasih yang kau semaikan, selamanya kan kami kenang

- - - - - - - - - - - - - - - -- - - - - - - - - -

"Untuk anak KKN-PPL UIN 2010'

MTsN Sumberagung, 01 September 2010

Oleh: Yulian Istiqomah

Sunday, 4 July 2010

ANAK PANDU


Duh, Nak, Pandu-pandu kebanggaanku...
Tampak semangatmu begitu menggelora..
Di wajahmu tersungging senyum ceria
Panas tak kau rasa
Letih tak jadi perkara
Maju terus di bawah bendera pramuka
Bahu membahu dalam suka duka
Meski ancaman cuaca terus mendera


Anak- anakku..
Kau teguhkan hati mencoba mandiri
Jauh dari keluarga yang kau kasihi
Makanan seadanya tak membuatmu kecil hati
Menempa diri melakukan banyak hal yang berarti
Lantang kau berteriak, "Ya,Aku Berani"
Larangan kau jauhi, aturan kan kau patuhi

Sungguh haru aku melihatmu,Nak..
Kau singkirkan hasratmu
Demi meraih predikatmu sebagai 'Anak Pandu'
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
"Dalam kebersamaanku dg anak2ku"
Agro aerowisata Jogja, 14 Mei 2010
Oleh:Yulian Istiqomah

Punyeng Hai

Alamak...
Rasa ini menggelora
Tak berujung makin merajarela
Berlapis-lapis menyesakkan dada

Halah Mak...
Jadilah suri tauladanku..
Aku akan menguntit di belakangmu
Tanpa susah mikir hingga puyeng jidatku
Janji aku takkn sembunyi di balik selendangmu
Meski aku rindu belaian kasihmu..

Lihatlah Mak...
Dunia ini kian mengerikan saja
Bagai melangkah di kawah dosa
Sudahkah kau bekali aku sampan iman dalam jiwa
Atau sampan Emak sendiri justru berlubang dimana-mana

Duh, Mak...
Mau jadi apa aku kelak..
Takdir tak lagi dapat terelak
Berisiknya bujukan setan membuatku muak

Puyeng hai aku, Mak..
Setan tak jua mau pergi meski aku jadi kyai
Setan semakin happy bila aku jadi gali
Setan masih menghantui bahkan bila aku mati

Hahay..aku tahu,Mak...
Ada satu posisi yang begitu suci
Menjadi kekasih Illahi Rabbi
Hidup damai bak tidur dalam selimut bayi
Langkah dilindungi juga dirahmati
Mak, tuntun aku meraih anganku ini
-- - - - - - - - - - - -
"Kala ketakutan mendera jiwa"

Bantul, 12 Mei 2010
Oleh: yulian istiqomah

KENANGAN

Ada yang hilang
dari hidup ini
dari dalam hati
menyisakan sepi

Ada yang hilang
Tentang kenangan kita
Kebersamaan kita
suka duka kita

Entah kapankah smua kan terulang
Buatku melayang dan bersenang-senang
Entah kapankah kurasa bahagia
Di dalam jiwa..selamanya...

Andai kubisa terbang ke masa silam
menguak kenangan yang tak terlupakan

Bersinarlah mentari
Sinari mimpi-mimpi
Menerapi hati
Meraih ridho Illahi..
- - - - - - - - - -
"Lirik lagu fatwa band"
Mtsn sumberagung, 10 Mei 2010
Oleh: yulian istiqomah

BUKAN FATA MORGANA

Pada batas cakrawala kau sisipkan asa
Membujuk sang surya agar tak redupkan sinarnya
Membisiki udara dan berdamai dengan cuaca
"Bukan Fatamorgana!" teriakmu pada kilau cita

Hebat,Nak...
Rapuh langkahmu pada tangga berduri itu
Tak redupkan binar semangat di matamu
Berdamai dengan waktu kau melangkah satu-satu
Kau rengkuh dan kau peluk erat tekadmu
"Bukan fatamorgana" teriakmu pada kilau cita itu

Lantas...
Kini kau jatuh terhempas
Segala asa seolah kandas
Kilau cita telah membias
Meski semangat tak kau biarkan terlepas
"Bukan fatamorgana"bisikmu dalam tiap hembusan nafas

Duhai Anakku...
Kau telah bercermin pada sang surya
Tak letih kau mengeja rasa menantang logika
Binar mata sama memandang batas cakrawala
Memeluk erat semangat dalam jiwa
"Bukan fatamorgana dan aku BISA!"
Teriakmu pada kilau cita
- - - - - - - - - -
"Untuk anak-anakku yg gagal UAN"
MTsN SUMBERAGUNG,09 Mei 2010
oleh: yulian istiqomah

Wednesday, 26 May 2010

"Binar asa anak cucu kita"

Hey..lihatlah...
Bagaimana bola mata jernih mereka menatap bangga pada kita.
Polos... tulus... penuh asa...
Lengkap dengan senyum kecil yang tersungging lucu di bibir mungil mereka.
Wajah yang merona...
dan Ibu jari mungil yang teracung malu ke arah kita.

Duhai...
Marilah sama-sama kita kalungkan kenyamanan dan kemapanan dalam hidup anak cucu kita.
Tegakah kita jejalkan rasa kecewa dalam hati mereka??

Hey...lihatlah pula...
Di masa mendatang, mereka adalah urat nadi penerus dinasti keluarga kita.
Duka mereka adalah kegagalan kita!!..
---------------------------------------------------------------------------
Oleh: Yulian Istiqomah

"Tidakkah kita Wajib bersyukur?"

Anakku, lihatlah..
Di sudut-sudut kota sana
Anak-anak jalanan menengadahkan tangan
Mengemis, mengamen, mencuri, merampok
Hanya demi memenuhi hal perut lapar mereka

Dengarlah...
Di kolong-kolong jembatan sana
Janda-janda netapa merintih pedih
Mengasi timbunan sampah hanya demi sesuap nasi
Untuk mebungkam tangis kelaparan anak-anak mereka

Dan perhatikanlah...
Di persimpangan sana
Para ayah susah payah, membasuh peluh
mengabaikan teriakan letih tubuh mereka
menegakkan perut lapar mereka
berjuang menaklukkan hari dan pulang dengan senyum penuh syukur
membawa nasi bungkus impian anak-anak mereka

Tapi lihatlah jua anakku....
Orang-orang itu, yang hanya duduk berpangku tangan, membaca koran
menghabiskan waktu dan pulang sebelum jam satu
namun selalu tepat waktu mengantri setiap tanggal satu
dengan binar mata yang berkata, ini HAKKu!

Dengarlah jua...
Mulut-mulut yang mencibir makanan kampung
yang disajikan dengan penuh tetesan peluh
Yang mengerang kala perut tak terpuaskan
dan mengaum kala harta tak terbagi samarata

Duhai anakku...
Apa yang kita puna ketika kita lahir dari rahim ibunda?
Apa yang akan kita miliki ketika kita mati dan dikubur nanti?
Di mana hati nurani kita?
Mencecar rizki yang dititipkan Allah pada kita?
TIDAKKAH KITA WAJIB BERSYUKUR??....

---------------------------------
Oleh: Yulian Istiqomah, S.Pd.