Wednesday, 9 March 2016

“USTAD KW”~~~Karya: Yulian Istiqomah (Tahun 2014)


 (dengan iringan music) oleh narator
 (musik meninggi sejenak)
Para pemirsa… Klub “Teater FATWA” MTsN Sumberagung Jetis Bantul di bawah bimbingan Ibu Yulian Istiqomah dan Ibu Lutfiatul Khasanah, segenap kru Poduksi, dan Supervisor Muh. Annas Bangkit Widyanarta dengan BANGGA…. mempersembahkan sebuah drama musical yang berjudul “USTAD KW” Karya Aldo Adriansyah dan Yulian Istiqomah, dengan Pemain :Ferinda sebagai Azizah,Yahya sebagai Bapak, Erli  Sebagai Emak, Rio Sebagai Ustad Sidiq, Howingsan sebagai Nurul, Wisnu sebagai Slamet, Virama sebagai Dokter, El-Rafi sebagai Ustad Somad dan Ratna sebagai Perawat.
----------Selamat Menyaksikan!!.......
ADEGAN I
SETTING:
DI SEBUAH TERAS RUMAH. TAMPAK AZIZAH SEDANG DUDUK DI TERAS RUMAH SAMBIL MEMPERSIAPKAN MUKENA DAN ALQUR’AN YANG HENDAK DIBAWANYA MENGAJI.
1.         Azizah : “Bismillahirahmanirahiim… semoga saja niat baikku ini diridhai oleh Allah. Membentuk generasi islami tidak bisa instan. Harus dibiasakan! Semangat!!” SAMBIL MENGENAKAN TASNYA. AZIZAH BERTERIAK MEMANGGIL EMAKNYA.  “Mak…Maak…!”
2.       Emak        : “Ono opo tho nduk? Mamak baru nanggung ngliwet je. Lha ndi kancamu kok durung ngampiri?
3.       Azizah : “Anu, Mak. Azizah berangkat ngaji duluan saja. Nurul nanti biar nyusul. Assalamu’alaikum  AZIZAH BERSALAMAN DAN MENCIUM TANGAN EMAKNYA. KETIKA HAMPIR BERLALU TIBA-TIBA SAJA NURUL DATANG SAMBIL BERLARI-LARIAN.
4.      Nurul  : “Azizah!!!... tunggu-tunggu IA NAMPAK NGOS-NGOSAN. “Temen-temen mendadak ndak mau ngaji di tempat ustad Somad.”
5.      Azizah : “Astaghfirullah… memangnya kenapa, Rul. Kok aneh sekali. Kemarin kita kan sudah berjanji mau bersungguh-sungguh mengaji?MENATAP NURUL HERAN.
6.      Nurul  : “Begini, teman-teman mendadak takut karena isunya… ustad Somad itu cabul. Makanya santri yang diterimanya perempuan semua.”
7.      Emak   : “Masyaallah… jangan ngawur kamu, Nduk!”
8.      Azizah : “Iya, Rul. Jangan ikut-ikutan menyebarkan Fitnah.”
9.      Nurul  : “Haduh! Mak, saya itu ndak bohong. Si Fatimah yang jadi korbannya ustad Somat. Ya… saya juga ndak dengar langsung sih.tapi orang-orang baru heboh ngomongin ini, Mak.”
10.  Azizah : “trus kita ngaji dimana dong, Rul?” BINGUNG.
11.  Nurul  : “Temen-temen trus mau ngaji di tempatnya ustad Sidiq, sahabatnya ustad Somad katanya. Yuk kita cari tahu.” MENARIK TANGANNYA AZIZAH KELUAR PANGGUNG.
12.  Azizah : “Pergi dulu, Mak. Assalamu’alaikum…” SAMBIL BERJALAN KELUAR PANGGUNG.
13.  Emak   : “Yo, Nduk. Sing ati-ati!” MERENUNG SEJENAK. LANTAS SEOLAH MENCIUM BAU SESUATU. “Walah, mambu opo tho iki ki?” BINGUNG. “Kok Koyo mambu Goss….. Masyaallah… liwetku gosong!” NGIBRIT MASUK KE DALAM RUMAH.
ADEGAN II
SETTING: DI TERAS RUMAH AZIZAH. BAPAK PULANG DARI SAWAH. MEMAKAI CAPING DAN TERLIHAT KELELAHAN.
14.  Bapak  : Alhamdulillah… akhirnya sampai di rumah juga. Sayah tenan!!MENGAMBIL RADIO YANG ADA DI MEJA DAN MULAI MENCARI SIARAN, LALU BERHENTI KETIKA TERDENGAR SEBUAH BERITA.
Berita            ”Para Pemirsa, Seorang gadis cantik telah menjadi korban seorang ustad cabul di sebuah dusun di Kab. Gunung Kidul. Kasus ini merebak dan membuat panik semua orang tua santri yang putrinya belajar agama pada ustad tersebut. Namun, hingga saat ini belum jelas dimana keberadaan gadis cantik itu, sehingga warga dan pihak berwajib yang dilapori tentang kasus tersebut belum mendapatkan bukti yang kongkrit, sehingga kasus ustad cabul ini masih menjadi isu yang meresahkan warga, meskipun sang ustad mengaku tidak pernah melakukan apa yang telah dituduhkan warga padanya...”
15.  Bapak  : ”Mak.... Makne!!...” RESAH MEMATIKAN RADIO DAN MEMANGGIL EMAK.
16.  Emak   : ”Ono opo tho, Pak? Ini diminum dulu kopinya.” DUDUK MENYUGUHKAN KOPI. SAAT SEDANG MENIKMATI KOPI. USTAD SIDIQ DATANG.
17.  Sidiq  : ”Assalamu’alaikum Pak Joko. Wuah... sedang santai nih?”
18.  Bapak  : ”Wa’alaikumsalam. Monggo Pak Ustad!”
19.  Sidiq   : ”Wah... terima kasih, Pak Joko.” DUDUK ”Sebenarnya saya kesini mau bertanya.. apakah bapak sudah mendengar isu tentang ustad Somad?”
MENDENGAR ITU BAPAK DAN EMAK KAGET DAN MERASA ANEH. USTAD KOK DATANG CUMA NGAJAK NGRUMPI.

20.     Bapak  : Lho memangnya ada apa dengan ustad Somat tho, Pak? Bukankah ustad Somat itu sahabat karib panjenengan? Anak saya juga sering ngaji di sana.BAPAK HERAN.
21.  Sidiq  :”Nah, itu! Akan saya beri bocoran. Tapi kalau boleh... kayaknya kopinya enak itu, Pak! Hehehehe.... ” MENDENGAR ITU EMAK MENJEB SEDANG BAPAK MEMBERI KODE AGAR DIAMBILKAN.
22.  Bapak  : “Memangnya ada apa dengan ustad Somad tho, Pak? Setahu saya beliau sosok yang baik dan santun.EMAK DAT.ANG MEMBAWAKAN KOPI UNTUK USTAD SIDIQ.
23.  Emak   : Monggo, Den… eh Pak Kyai. Diminum dulu kopinya. Ngapunten, ndak ada camilannya.
24.  Sidiq      : SEGERA MEMINUM KOPINYA SEOLAH BEGITU KEHAUSAN. Alhamdulillah, hmm…. sayang tidak ada camilannya. Padahal saya lapar sekali…” MENDENGAR UCAPAN USTAD SIDIQ YANG SEOLAH DIUCAPKAN TANPA SADAR ITU. EMAK DAN BAPAK DIAM, SALING BERPANDANGAN KEHERANAN.
25.  Sidiq      :MENYADARI UCAPANNYA. “Oh… maksud saya, hehehe… saya mengaji teruuus dari pagi hingga petang. Ya.. membaca Al- Qur’an. Hehehe… Maklum saya ini kan seorang ustad, jadi semangat mengaji saya harus melebihi santri-santri saya dong. Nah, sampai-sampai sering lupa makan. Begitu maksud saya. Hehehehe” MENJELASKAN DENGAN GAYA BERLEBIHAN.
26.  Emak   :Oh… hehehe. Bagus itu, Pak. Putri saya akan saya suruh ngaji di tempat Bapak saja. Daripada di tempat ustad Somat yang cabul itu? MENDENGAR ITU USTAD SIDIQ TERTAWA, SEDANGKAN BAPAK LANGSUNG MENATAP EMAK TAJAM.
27.  Bapak  : “Huss… jangan ngawur, Mak. Bapak kok masih tidak percaya Ustad Somat begitu.”
28.  Sidiq  : Apa yang dikatakan istri panjenengan betul. Memang saya ini pendatang, tetapi saya kan sahabat Ustad Somat. Jadi, saya ini ya tahu betul bagaimana sebenarnya ustad Somat itu. Baik setelah menjadi ustad atau belum. Hingga saat ini Ustad Somat belum menikah. Ya karena gadis-gadis yang diincarnya akhirnya tahu belangnya ustad Somat. Hehehe…”
29.  Bapak  : MERENUNGKAN PERKATAAN USTAD SIDIQ. “Tapi, Pak Sidiq. Bapak ini kan sahabatnya. Kok malah menjelek-jelekkan ustad Somat, bukannya membantunya?”  
30.  Sidiq  : GELAGAPAN Oh Anu, yaa… saya tentu saja lebih memikirkan kebaikan orang banyak tho, Pak. Masak saya membiarkan sahabat saya berbuat seperti itu. Hehehe… Nah, kalau semua santri ustad somad berpindah ke tempat saya. Kan dia nanti akan dating pada saya, Pak. Saat itulah saya akan menasehatinya. Hhahahaha… TERDENGAR SUARA ADZAN MAGRIB. USTAD SIDIQ MASIH SANTAI SAMBIL MENYERUPUT LAGI KOPINYA.
31.  Bapak :Yaa.. Semoga Allah menunjukkan jalan yang terbaik untuk permasalahan ini. Kalau bagi saya yang penting anak saya bisa memperdalam ilmu agama. Entah siapa saja ustadnya...” MELIHAT KE EMAK YANG MENGISYARATKAN TANGANNYA UNTUK SHOLAT. Sudah adzan Magrib Pak Ustad. ...” PERKATAAN PAK JOKO RUPANYA TIDAK DIGUBRIS OLEH USTAD SIDIQ.
32.  Sidiq :Tahu tidak Pak Joko, Ustad Somad itu, sebelum menjadi ustad beliau adalah seorang preman. Alhamdulillah setelah diajak ibunya Umroh kelakuannya sudah mulai berubah...”
MENDENGAR ITU EMAK MELENGOS, TIDAK SABAR IA PUN PERMISI MASUK KE DALAM.

33.  Emak  : (BERDEHEM) Maaf, Pak Ustad. Saya permisi ke belakang dulu. Sudah Magrib. Lagian tidak baik merumpikan orang lain.
34.  Sidiq  : MANGGUT-MANGGUT Oh ya, Silahkan. Saya masih ingin ngobrol sebentar dengan Pak Joko.” UCAPNYA TANPA DOSA DAN TIDAK MENYADARI EKSPRESI HERAN PAK JOKO.
35.  Bapak : TERSENYUM Oh, ngapunten Pak Ustad. Bukankah Allah lebih menyukai orang yang tidak menunda-nunda sholatnya?” MENDENGAR ITU USTAD SIDIQ SALAH TINGKAH.
36.  Sidiq   : MANGGUT-MANGGUT, Oh iya. Iya, Pak. Betul sekali. Tapi tamu juga harus dimuliakan, Pak. Emh… tapi baiklah, nanti saya masih harus mampir di tempat Pak RT juga. Mudah-mudahan beliau belum berangkat ke masjid. Jadi sebaiknya saya permisi. Assalamu’alaikum.
37.  Bapak : “Wa’alaikumsalam” GELENG-GELENG KEPALA Masyaallah, ustad kok kayak begitu. Jadi ragu. Jangan-jangan ia hanya ustad gadungan. Ustad KW. Astagfirullah… kok malah su’udzon.” MASUK KE RUMAH.

NARATOR:
Seminggu berlalu. Sejak kejadian merebaknya isu ustad cabul. Ustad Somat pun meninggalkan desa itu untuk pulang ke kampong halamannya. Akan tetapi sepeninggal ustad Somat, semakin lama kelakuan ustad Sidiq semakin membuat warga curiga. Tidak hanya Pak Joko dan Emak saja yang keheranan dengan perilakunya. Para Santri yang ngaji dirumahnya pun lama-lama marah dengan tuntutannya. Terlebih lagi Azizah. Sepulang mengaji ia selalu uring-uringan dan memaki-maki ustad Sidiq.

ADEGAN III
SETTING: DI TERAS RUMAH AZIZAH. AZIZAH PULANG DAN MENGHENTAKKAN DIRI KE KURSI. SAMBIL MENDESAH KESAL.
38.  Azizah          : Astaghfirullah… dunia ini sudah  mau kiamat apa ya? Akeh ustad ra nggenah.”
39.  Emak       : (MENGAMATI) “Kamu itu kenapa tho nduk? Muleh ngaji kok ngomyang dhewe.” MENDEKAT DAN DUDUK DI SEBELAH AZIZAH.
40.  Azizah     :Ulah ustad Sidiq sekarang kok aneh-aneh ya, Mak?” MELIHAT KE EMAK.
41.  Emak       : (TERSENYUM) Aneh piye tho Nduk?
42.  Azizah     : ”Ustad Sidiq kemarin ndak ngajari ngaji malah menanyai para santri aneh-aneh gitu lho, Mak. Seperti tentang keluarga, sekolah, pacar. Terus disuruh infaq per orang minimal lima ribu dan…..
43.  Emak       : “Haah, suruh mbayar, Nduk?” HERAN.
44.  Azizah     : (MAKIN SEMANGAT) Iya, Mak!, Ya… Ustad Sidiq nyebutnya iuran sih. Tapi masak infaq kok ditentukan. Bahkan Ustad Sidiq juga memberikan surat edaran untuk para orang tua wali santri, Mak. MENGAMBIL SEBUAH KERTAS DARI DALAM TAS NGAJINYA.
45.  Emak       :PENASARAN DAN BURU-BURU MEMBACA EDARAN ITU.  Haaahh!! Dua ratus ribu?? Masyaallah! Edyan tenan! UCAP EMAK LANTANG
46.  Bapak      : KELUAR. MEMAKAI KACAMATA SAMBIL MEMBAWA AL-QUR’AN. Huss.. Sopo sing Edan?! Ini itu pada mbahas apa? Nganggu orang baru ngaji aja!
47.  Emak       : MENDEKATI BAPAKNiki lho, Pak. Monggo Bapak baca edarannya Ustad Sidiq untuk para santri. Rak yo Radong tenan tho niku jenenge. MENYERAHKAN KERTAS KE BAPAK.
48.  Bapak      : MEMBACA SEJENAK,Hmm… sudah tidak wajar ini, Mak! Infaq 200 ribu setiap santri ini akan banyak menuai emosi warga, Mak. Emak sendiri buktinya. Reaksinya langsung begitu. Saya yakin, di luar sana pasti banyak yang protes.
49.  Emak       : MARAH, “Ustad matre kayak gini apike yo digebuki wae.”
50.  Bapak      : MEMBENTAK, “Huss!! Istighfar Mak. Jangan emosi.”
51.  Emak       : “Astagfirullahal’adzim…. Benar dugaan saya tho, Pak. Ustad Sidiq itu meragukan, tidak bisa dipercaya. Beda dengan ustad Somad dulu. Priyayine malah ndenakake. Tulus ikhlas ngajari ngaji.” HENING SEJENAK SIBUK DENGAN PIKIRAN SENDIRI.
52.  Azizah     : Mak…. Pak, Azizah lebih baik berhenti mengaji pada ustad Sidiq. Jujur Azizah kok lebih nyaman belajar ngaji dengan ustad Somad. Tapi Azizah bingung, kenapa ustad Somad pergi dari kampong ini tanpa pamit. Apa benar yang dituduhkan Ustad Sidiq kepada Ustad Somad itu?” BINGUNG.
53.                     Bapak     : BERPIKIRBapak juga tidak tahu bagaimana yang sebenarnya, Nduk. Semoga segera ada titik terang untuk masalah ini….dan ….TERHENTI MENDENGAR SUARA NURUL DATANG.
54.  Nurul      : AGAK NGOS-NGOSAN Azizah!... Azizah!.” MENARIK NAFAS ”Eh, iya.. Slamat malam Pak,Emak..” TERSENYUM KIKUK.
55.  Emak       : Kok sajak ngos-ngosan ki ada apa tho cah ayu?!”
56.  Azizah     : “Iya nih, Nurul kalau datang saja sudah ngos-ngosan begini, Mak. Itu tandanya dia baru saja memata-matai sesuatu. Hayo ngaku aja. Iya kan?”
57.  Nurul      : CENGENGESAN “Hehe… iya nih.”
58.  Bapak      : IKUT PENASARAN. ”Wis ndang critakno, Nduk!”
59.  Nurul      : ”Beg.. begini Pak. Tadi sepulang ngaji, teman-teman memberikan surat edaran dari Ustad Sidiq ke orang tua masing-masing.  Nah, orang tua mereka... termasuk orang tua saya marah besar Pak. Malah ada yang sudah lapor ke pak RT dan pak polisi juga Pak. Sekarang lagi pada berbondong-bondong ke rumah kontrakan ustad Sidiq.”      
60.  Azizah     : ”Azizah ikut ke sana ya Pak?” MEMEGANG TANGAN NURUL DAN HENDAK PERGI.
61.  Emak       : ”Ndak Usah! Biar bapakmu saja yang kesana.”
62.  Bapak      : ”Ya Bapak tak kesana. Tak ngewangi ngrampungke masalah. Yo, Nduk, Nurul. Bapak diantar.” BERDIRI, MEMBENAHI SARUNG DAN KACAMATA.
63.  Nurul      : ”Nggih, Pak. Mari saya antar. Azizah... ”BAPAK DAN NURUL KELUAR PANGGUNG.
64.  Azizah     : MANYUN. ”Azizah kok ndak boleh ikut tho, Mak?” BERDIRI MONDAR-MANDIR ”Azizah, nyusul bapak ya, Mak?”
65.  Emak       : AGAK MENAJAMKAN PANDANGAN ”Ndak Ussah!!” TEGAS.
66.  Azizah     : ”Ugh... Emak!” MENJEJAKKAN KAKI KE LANTAI DAN MASUK KE DALAM RUMAH.

EMAK MENGAMBIL SAPU DAN MULAI MEMBERSIHKAN RUANGAN. BERHENTI SEJENAK DAN MENGAMBIL RADIO YANG ADA DI MEJA.

67.  Emak       : ”Eh, daripada stress memikirkan si Ustad KW. Lha mbok yo nyetel ndangdutan. Ben semangat le temandang gawe sore-sore.” MENCARI-CARI GELOMBANG RADIO YANG COCOK. TRUS BERHENTI SAAT MENDAPATI LAGUNYA SOIMAH. ”Lha iki! Iki... Artis fenomenal asli Mbantul! Soimah Pancawati!”

EMAK MULAI NYAPU SAMBIL SESEKALI GOYANG MENGIKUTI IRAMA MUSIK. MEMAINKAN SAPU YANG DIPEGANGNYA. HINGGA AKHIRNYA BERHENTI KETIKA MENDENGAR SUARA ORANG TERTAWA. PAK SLAMET BERDIRI SAMBIL KETAWA-KETIWI MELIHAT TINGKAH EMAK.

68.  Slamet          : TERTAWA NGAKAK. ”Jiahahahaha..... Si emak joged oplosan.”
69.  Emak       : BERHENTI JOGED, MELIHAT SLAMET Woo lha.... ini namanya sedang berekspresi, ngerti?”
70.  Slamet     : MLONGO. ”Oh... emak sedang bereksesi... eh... bereksotis? Eh opo mau?”
71.  Emak       : KESAL ”Berekspresi!! Mung omong ngono wae ra iso.”
72.  Slamet     : TERTAWA ”Oh ya sudah... saya hanya numpang lewat, mau ke masjid. Mengambilkan buku tausiahnya Ustad Somad!Pringisi... Mak.” BERJALAN.
73.  Emak       :MARAH ”Permisi!!... kok pringisi gundulmu!” BERPIKIR SEJENAK ”Eh... Eh... Met! Slamet! Sek... mengko disik... mbeneo!” MENGIKUTI.
74.  Slamet     : MENDEKAT ”A..a..ada apa, Mak?”
75.  Emak       : ”Lha saiki ustad Somad dimana?” PENASARAN
76.  Slamet     : ”Su..sudah balik ke sini. Sekarang ya di rumahnya tho, Mak.”
77.  Emak       : BINGUNG ”Lha kemarin ustad somad sebenarnya pergi kemana?”
78.  Slamet     : TIDAK MENJAWAB HANYA NUNJUK-NUNJUK KE ARAH PINTU MASUK SISI KIRI.
79.  Emak       : MELIHAT TINGKAH SLAMET, EMAK JENGKEL. ”We lha ditakoni wong tuo je. Ustad Somad itu kemarin pergi ke mana? Masyarakat sini itu pada heboh gosipin ustad somad yang ndak bener. Lha kok malah ustad somad pergi. Rak yo pada bingung tho?”
80.  Slamet     : KEMBALI NUNJUK-NUNJUK KE ARAH USTAD SOMAD YANG SUDAH BERDIRI DI SISI PANGGUNG TANPA BICARA.
81.  Emak       : HERAN ”Kowe ki nuding-nuding opo... tho...”BERBALIK DAN MELIHAT USTAD SOMAD YANG TERSENYUM DISANA. ”Eh, Pak Ustad Somad.” BERBALIK KE SLAMET ”Kok ndak bilang-bilang kalau ustad Somad datang!”
82.  Ustad Somad : ”Assalamu’alaikum Bu..” MENDEKAT
83.  Emak       : SALAH TINGKAH ”Wa’alaikumsalam, monggo Pinarak Pak Ustad.” NGELAPI TEMPAT DUDUK. ”Monggo-monggo, silahkan duduk.”
84.  Ustad Somad : ”Terimakasih Bu.” DUDUK DAN MEMANGGIL SLAMET. ”Slamet, tolong segera kamu kembalikan mobil sewaan itu ke rental. Sudah saya bayar. Ini kuncinya.”
85.  Slamet     : MENDEKAT DAN MENERIMA KUNCI, ”Nggih, Pak Ustad. Monggo Mak. Assalamu’alaikum.” KELUAR PANGGUNG.
86.  Emak       : TERSENYUM. ”Maaf, lho Pak Ustad.jika tadi tingkah saya tidak berkenan di hati panjenengan.”
87.  Bapak      : DATANG ”Assalamu;alaikum”..
88.  Emak       : BERDIRI, ”Wa’alaikumsalam. Alhamdulillah sampeyan sudah pulang, Pak.” MEMINTA IJIN KE USTAD SOMAD. ”Permisi, Pak. Saya ke dalam dulu. Oh ya mau minum apa, Pak?”
89.  Ustad Somad : ”Oh, tidak usah repot-repot, Bu. Saya tidak lama kok. Maturnuwun.”
90.  Bapak      : DUDUK ”Alhamdulillah, kedatangan ustad Somad, sungguh tepat. Masyarakat perlu klarifikasi dri panjenengan, Pak. Tentu Pak Ustad juga sudah tahu bagaimana simpang siur kabar beritanya. Belakangan ini tingkah Ustad Sidiq semakin tidak wajar dan sering membuat marah warga.”
91.  Ustad Somad : MENGANGGUK MANTAB. ”Ya. Pasti Pak. Untuk itu sy langsung ke sini. Bermaksud menemui Pak Joko yang saya anggap cukup bijak untuk saya mintai pendapat. Ustad Sidiq itu sahabat karib saya waktu kuliah. Namun karena tekanan batinnya, keluarganya sempat mendatangkan psikolog rutin kerumahnya. Entah bagaimana perkembangannya sekarang saya kurang tahu.”
92.  Bapak      : HERAN. ”Maksud Pak Ustad, Ustad Sidiq sempat mengalami gangguan jiwa?”
93.  Ustad Somad : MENGANGGUK, ”Ya yang saya dengar.....” TERHENTI KARENA ADA SEORANG DOKTER DAN PERAWAT DATANG.
94.  Dokter     : MENDEKAT ”Permisi, boleh kami tahu dimana letak rumah kontrakan ustad Sidiq? Saya Dokter Psikologinya dari Rumah Sakit Jiwa Cahaya Mulia. Saya dengar terakhir ia menjadi ustad di desa ini. Pasien saya itu menghilang setelah saya nyatakan bahwa ia perlu di rawat inap”
EMAK DAN AZIZAH YANG SEJAK TADI MENGUPING PEMBICARAAN ITU TAK TAHAN KELUAR KARENA PENASARAN

95.  Emak       :”Jadi ustad Sidiq itu Gila, Dok?!” TANYA EMAK LANTANG
96.  Dokter     : ”Ya!” MENGHADAP KE PERAWAT. ”Coba mana catatan medisnya.”
97.  Perawat    : MEMBUKA-BUKA KERTAS DALAM MAP YANG DIBAWANYA. MENGAMBIL SELEMBAR DAN DISERAHKAN KE DOKTER ”Ini Dok. Atas nama Sidiq Mustofa.”
98.  Dokter     : ”Dari rekap medis, belum ada perkembangan signifikan. Ia perlu perawatan psikologis dan belum siap hidup di tengah masyarakat. Bu.”
99.  Azizah     : MARAH ”Dasar Ustad KW, Orang gila saja sok-sokan jadi ustad! Nah, Pak. Jelas kan sekarang siapa yang salah. ”

DI LUAR PANGGUNG TERDENGAR SUARA RIBUT-RIBUT WARGA. NURUL DATANG DENGAN NAFAS NGOS-NGOSAN.

100.                                                       Nurul    : ”Pak!.. Pak Joko... Aduh gimana ini, Maaf... itu warga ngamuk lagi. Itu.... Di sana! pada mau ngepruki Ustad Sidiq. Karena ustad Sidiq tadi juga ngamuk dan melempari warga dengan batu, Pak. Ayo Cepat, Pak!! kita kesana!”
101.                                                       Bapak    : BERDIRI KAGET. BERPANDANG-PANDANGAN DENGAN USTAD SOMAD. ”Tampaknya sudah sangat gawat dan saya rasa Pak Ustad juga harus kesana.”
102.                                                       Emak : NGGAK SABAR. ”Ah, sudahh... ayo semua kesana saja!” MELANGKAH KELUAR PANGGUNG.
103.                                                       Nurul    : ”Iya!.. ayo cepat Mak.” MENGIKUTI EMAK
104.                                                       Azizah   : ”Izah ikut, Mak... tunggu!” BERLARI MENGEJAR EMAK DAN NURUL.
105.                                                       Bapak    : ”Mari Pak Ustad, Dokter. Sebaiknya kita segera menyusul kesana..”
SEMUA KELUAR PANGGUNG. PANGGUNG KOSONG

H E N N I N G........... (Musik...)

NARATOR:

……………………………..(MENYUSUL…… BELUM KETEMU AYATNYA)



(Musik meninggi)
            DEMIKIANLAH pemirsa, telah kita saksikan bersama persembahan drama yang berjudul “USTAD KW” karya : Yulian Istiqomah. Kami segenap kru yang terlibat mengucapkan terimakasih dan SAMPAI JUMPA!!                                       
(The-End)





PENYEMPURNAAN VISI DAN MISI MTsN SUMBERAGUNG


            Dalam rangka penyempurnaan visi misi MTsN Sumberagung, maka diperlukan penjabaran dan pemaknaan kata demi kata agar maksud dan tujuan menjadi lebih jelas serta mudah dipahami. Untuk itu, perlu dimusyawarahkan dengan berbagai pihak, antara lain komite dan tim pengembang madrasah.
            Dalam musyawarah tersebut, akhirnya diperoleh kesepakatan bersama bahwa Visi MTsN Sumberagung adalah CERIA dengan harapan anak didik menjadisiswa yang Cerdas, Rajin, Inovatif,danber-Akhlakmulia.
Adapun indikator masing-masing istilah tersebut adalah:



1.      Cerdas
a.       Makhluk Allah Swt yang paling muliasertadikaruniai akaldanpikiran
a.       Menguasai ilmu agama, ilmu pengetahuan, dan teknologi
b.      Berkepribadian baik dalam keluarga, sekolah, masyarakat, dan bernegara.
c.       Berprestasidi bidang akademik atau non-akademik.
d.      Bersikap kreatif, produktif, dan kompetitifdalamberbagaibidang.
e.       Mampu beribadah sesuai dengan syarat dan rukun yang benar
f.       Terampil menyimak, membaca, berbicara dan menulis dalam bahasa Indonesia, Inggris, Arab, dan jawa dengan baik.
g.      Terampil dalam berbagai cabang olahraga (sepak bola, bulu tangkis, tenis meja, karate, pencak silat, dan lain-lain)
h.      Terampil mengaplikasikan ICT (Information and Communications Technology) dalam berbagai bidang.


2.      Rajin
a.       Rajin beribadah (shalat, puasa, Sodaqoh, dzikir, dan doa)
b.      Rajin membaca Al-Qur’an dan memahami maknanya
c.       Rajinmenghafal dan mengamalkan doa-doa dalam keseharian
d.      Rajinmempelajarinilai-nilai ajaran agama Islam dan mampu mengaplikasikannya dalam segala sendi kehidupan (baik lisan, sikap, dan berpakaian)
e.       Rajin belajar di mana saja dan kapan saja
f.       Rajin mengerjakan tugas dan kewajiban dengan baik dan tepat waktu
g.      Rajin mengikuti ekstrakulikuler untuk mengembangkan kompetensi diri.
h.      Rajin meng-Update ilmu dan informasi demi pencapaian hasil yang maksimal
i.        Rajin meng-Aktualisasi diri agar lebih matang dalam menghadapi tantangan hidup di jaman globalisasi.

3.      Inovatif
a.       Selalu menimba ilmu-ilmu baru
i.        Senantiasa melakukan perbaikan dan pembaharuan
j.        Mampu mengaplikasikan ilmu yang dikuasainya dalam kehidupan sehari-hari
b.      Mampu berkreasi dan mengaplikasikan hal baru yang positif dalam kehidupan.
c.       Mampu membawa perubahan yang positif dalam lingkungannya.
d.      Sanggup menerima perubahan dalam lingkungan hidupnya dan mampu menyikapi perubahan tersebut.
e.       Mampu bersikap aktif, kreatif, dan produktif. (dalam dunia pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya)



4.      Akhlak mulia
a.       Memahami agama dan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadist.
b.      Berusaha menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya.
c.       Berperilaku sesuai dengan sunah Rasullullah SAW.
d.      Senantiasa berupaya menjauhi larangan Allah Swt dan menjalankan perintahNya.
k.      Senang melakukan kegiatan yang positif dan menolong orang lain yang membutuhkan.
e.       Mampu meneladani dan mampu memberikan suri tauladan yang baik.
f.       Mengutamakan kepentingan bersama, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara.
g.      Mampu mengendalikan hawa nafsu negatifnya dan mampu bersikap santun, sabar, mudah memaafkan, juga tidak pendendam.
h.      Menghargai dan menghormati pemeluk agama lain dalam hidup bermasyarakat.
i.        Bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.


MISI MTsN SUMBERAGUNG

1.      Mendidik peserta didik agar menjadi manusia unggul, memiliki kecerdasan optimal, berakhlak mulia, dan siap melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
2.      Mendidik peserta didik agar dapat menjadi generasi Qur’ani yang terampil dan santun dalam kehidupan sehari-hari.
3.      Membiasakan peserta didik bersifat aktif, kreatif, inovatif, dan kompetitif, sehingga dapat berprestasi dalam bidang akademik maupun non-akademik.
4.      Membimbing peserta didik untuk mendalami dan mengaplikasi ajaran agama Islam sesuai dengan tuntunan syari’at yang benar.
5.      Membimbing peserta didik agar rajin mengaktualisasi kompetensi diri, sehingga bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
6.      Mendidik peserta didik agar memiliki kepedulian sosial, seni, dan budaya yang tinggi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Wednesday, 27 June 2012

Selamat Jalan 'Wahyu Suganda'


Innalillahi wainnailaihiroji’un…
Sobat, tanggal  6 Mei 2012 kemarin, teman kita kelas IX.B sudah mendahului kita menghadap Allah SWT. Di usia yang begitu muda. Sayang sekali memang mengingat Wahyu adalah siswa yang pintar dan penurut. Namun, Allah ternyata menginginkannya lebih cepat. Kecelakaan tragis menimpanya di daerah Kretek Bantul Yogyakarta.
Wahyu… semoga  di sisi Allah engkau bahagia . 
Senyum yang mempesona, amal baik yang telah terjaga, insyaallah kan kami kenang selamanya!


PENSI 2012 (26 Mei 2012)

Penampilan Grup Paduan Suara MTsN Sumberagung

Penampilan Grup Paduan Suara MTsN Sumberagung

Foto Bareng Anak-anak Klub FATWA

Duet Fika Vs Bu Yulian lagu "Ayat-ayat cinta"

Dra. Heni Susilaningsih (Guru MTsN Bantul Kota)

Foto Bareng tim Serah Terima MTsN Sumberagung 
Tahun Pelajaran 2011/2012

Kholifatun Khoirunissa (Dirigen Grup Paduan Suara)
Foto Bareng Grup Paduan Suara
Grup Paduan Suara Bersama Pembimbing
Crew Teater FATWA
Aktris&Aktor Pementasan "Jangan Panggil Aku Surti"
Pembimbing Klub Teater dan Jurnalistik MTsN Sumberagung




Saturday, 12 May 2012

Naskah Pementasan Teater 2012

 JANGAN PANGGIL AKU SURTI



Karya:Yulian Istiqomah



Prolog: (dengan iringan music) oleh narator


Kala aku berkaca pada cermin hati, Kubiarkan anganku menukik ke dalam bayang diri, kubayangkan 'andai hari ini aku mati'. Tak dapat kupungkiri, keinginan duniawi kian mendominasi, frustasi makin mengerak dalam hati. Mengikis kadar iman yang terpatri. Ah, kini, terpampang sudah dalam cermin hati, Aku bukanlah yang dulu lagi.


(musik meninggi sejenak)


Para pemirsa… Klub “Teater FATWA” MTsN Sumberagung Jetis Bantul di bawah bimbingan Ibu Yulian Istiqomah dan Ibu Lutfiatul Khasanah, dan berserta segenap kru Poduksi, dengan BANGGA…. mempersembahkan sebuah drama yang berjudul “JANGAN PANGGIL AKU SURTI Karya Yulian Istiqomah, dengan Pemain : Yessy sebagai Surti, ..Fika. sebagai Emak , Fajar Sebagai Bapak, Anna Sebagai Ibu Kantin, Estri sebagai Guru, Alif Sebagai Amel, dan Hera Sebagai Via.


----------Selamat Menyaksikan!!............

SETTING: Di sebuah ruang keluarga.



ADEGAN I

Pada suatu pagi, Bapak dan Simbok bercakap-cakap.Bapak Tampak sedang membaca koran dan minum kopi.

MUSIK: REKAMAN IRINGAN LAGU PEDESAAN, UYON-UYON ATAU CAMPUR SARI.

1. Emak : Pakne! (MENYAPA PELAN)

2. Bapak : (DIAM DAN BERDEHEM, NYRUPUT KOPI)

3. Emak : Pak, Bagaimana anak kita Pak, Si Surti?

4. Bapak : Piye apanya? (MELIRIK SIMBOK SEBENTAR DAN KEMBALI MEMBACA KORAN)

5. Emak : Sepertinya Si Surti itu sudah berubah.

6. Bapak : Ya biar tho , Mak. Wajar. Sudah waktunya, dia kan bukan anak kecil lagi. (BACA KORAN)

7. Emak : Oalah, Apa Sampeyan tidak memperhatikan perubahan anehnya si Surti itu tho? (AGAK KERAS)

8. Bapak : Perubahan yang bagaimana? (MELIHAT EMAK)

9. Emak : Masyaallah, paringana sabar. Saya pusing memikirkan masa depan anak kita. Sampeyan malah santai-santai begitu tiap kali diajak rembugan. Anak kita, Si surti itu, sudah geblinger Pakne. Padahal dulu dia itu anak sing nyenengake. Sekolahe pinter, ngajine yo rajin, nganti dialem-alem karo mbah kyai Jupri.

10. Bapak : Sik...sik... geblinger sing kepiye tho, Mak?

11. Emak : Pak, kalau tak perhatikan, si Surti itu beli barang sing aneh-aneh. Kalung, gelang, karo barang do teng klenik sing ra wangun dinggo, kayak artis-artis sing neng tv-tv kae lho. Bukan itu saja, tingkahnya juga makin ndak karuan! Tidak mau ngerti kondisi orang tua!

12. Bapak : Walah, tak pikir opo. Kalau hanya seperti itu ya wajar tho, Mak. Rasah dipikir. Jare cah ABG, kui jenenge GAUL.”

(EMAK MRENGUT, DARI ARAH DALAM MUNCUL SI SURTI DENGAN DANDANAN GAUL BAJU SEKOLAHNYA)



13. Surti : Mak, Pak. minta uang! (DENGAN GAYA TIDAK SANTUN MENYODORKAN TANGANNYA)

14. Emak : Wis, sekarang Sampeyan lihat sendiri kan geblingernya tingkah anak kita ini? (BERDIRI)

15. Bapak : Sabar tho, Mak. (MENGAMATI SURTI YANG BERSEDEKAP ANGKUH) Kamu sudah sarapan belum Nduk?

16. Surti : Ah, bosan, Pak. Tempe lagi tempe lagi!... bisa kurus kering badanku ini.

17. Bapak : (MENGGELENGKAN KEPALA) Ya sudah, ini uangnya! (MEMBERIKAN UANG 10rb)

18. Surti : (MEREBUT UANG DARI TANGAN BAPAK) Hah...? Sepuluh ribu? Mana cukup buat makan enak di restoran sama teman-temanku, Pak?! (MARAH) Aku minta 100 Ribu!!

19. Emak : Oalah Ngger.... Kokyo kurang ajar timen tekonmu... Mbok yo ngaca tho Nduk... Kita itu hanya orang miskin. Rasah berlagak sugih. Opo anane! Istighfar, Nduk. Jangan sampai Allah murka dan menimpakan balasanNYA padamu. Seharusnya kita ini harus banyak bersyukur masih bisa makan, masih bisa ........

20. Surti : Halah!... Syukur-syukur! Aku capek hidup miskin, Mak! (MARAH )

21. Bapak : (MEMBENTAK) Surti!!....

22. Surti : Aaah, Surti! Surti!... (MARAH) Jangan panggil aku Surti! Aku bosan jadi Surti!! Surti yang dulu sudah mati!! (MENINGGALKAN PANGGUNG)

23. Emak : (SEDIH) Astaghfirullahal’adzim.... Duh Gusti.... Ujian apalagi ini.... Emak kok serasa sudah kehilangan surti yang dulu, Pak. Bapak lihat sendiri kan? Ia bukan seperti Surti kita...

24. Bapak : Sabar, Mak. Kita doakan saja, semoga Allah memberinya petunjuk dan menjauhkannya dari hal yang menyesatkan. Sudah, Bapak pergi dulu, mau ngluku sawahnya mbah kaji Jupri. Mungkin sampai malam. (MENINGGALKAN PANGGUNG)

25. Emak : (MEMBERESI GELAS DAN KORAN, LANTAS MASUK KE RUANG DALAM, SISI PANGGUNG DALAM)

FADE OUT


ADEGAN II

Sore harinya, Emak terlihat sedang membersihkan ruang keluarga dengan kemoceng, sambil sesekali melihat ke arah luar panggung, menanti Surti pulang. Terdengar suara music kejawen, lalu disusul dengan kumandang andzan Isya’.

26. Emak : (MEMBERSIHKAN MEJA, MELIRIK KE LUAR) Masyaallah, sudah Isya’ begini kok Surti belum pulang juga. Gek kamu itu kemana tho, Nduk....

27. Ibu Kantin : Assalamu’alaikum... (BERHENTI DI PINGGIR PANGGUNG)

28. Emak : (MEMPERHATIKAN TAMU YANG TAK DIKENALNYA) Wa’alaikumsalam... mari masuk, Bu.

29. Ibu Kantin : (TERSENYUM, LALU DENGAN RAGU BERJALAN MASUK SAMBIL MENGAMATI SEKELILING PANGGUNG) Maaf, Bu... apa benar ini rumahnya Neng Rosa? Duh, saya kok jadi ragu.

30. Emak : (BINGUNG, DAN TERSENYUM) Waduh, di dalam rumah ini tidak ada yang bernama Rosa, Bu. Jadi mungkin ibu memang keliru.

31. Ibu Kantin : (MENGGELENG DAN MENGULURKAN SEBUAH FOTO) Ah, tetapi orang-orang itu tadi menunjukkan rumah ini ketika saya menunjukkan foto ini, Bu. Apa ini anak ibu?

32. Emak : (TERKEJUT MENGAMATI FOTO SURTI) Hah, Surti? Ini... ah, ini memang anak saya, Bu. Tapi namanya Surti bukan Rosa.

33. Ibu Kantin : Saya juga bingung mengapa namanya jadi Surti, ia selalu bilang pada saya namanya Rosa. Berarti saya tidak salah alamat. Begini Bu, jujur kedatangan saya kemari mau menagih hutang anak ibu di kantin saya.

34. Emak : (KAGET) Hutang? Anak saya punya hutang?

35. Ibu Kantin : Ya, Bu, 200 rb!

36. Emak : Dua ratus ribu? Apa ..... tidak salah Bu?

37. Ibu Kantin : Anak ibu ini sering metraktir teman-temannya di warung saya. Tapi ya itu, ngutang. Ia bilang tidak bawa uang cash, tapi bawanya ATM dan Cek. Saya percaya saja, lha tampang dan penampilannya saja seperti orang berduit. Wah... saya juga tidak mengira kalau ternyata.... (MEMPERHATIKAN SEKELILING) ia hanya anak orang miskin.

38. Emak : Oalah Surti! Anake wong kere we kok yo ndadak berlagak Sugih tho Nduk.... Pakai nama Rosa segala. Mbokyo sak madya saja tho, Nduk...... (SEDIH)

39. Bapak : (MASUK PANGGUNG DAN MELETAKKAN CAPINGNYA) Ada apa tho , Mak. Kok le nggrentes?

40. Emak : Oalah Pakne, anakmu, Surti. punya hutang sama ibu ini 200rb. Gek kita ini mau bayar pake apa? Wong untuk makan saja kita susah.

41. Bapak : (MENGELUARKAN UANG 200rb DARI KANTONGNYA) Alhamdulillah, Makne. Tadi dapat rejeki dari mbah kaji Jupri 200rb. Ini Bu, maafkan tingkah anak saya ya..

42. Ibu Kantin : (TERSENYUM) Terima kasih ya, Pak. Uang ini untuk kulakan besok pagi, agar bisa jualan lagi. Kalau begitu, sudah sah. Saya permisi. Asalamu’alaikum. (KELUAR PANGGUNG)

43. Bapak : (MENGULURKAN UANG 10 Rb PADA EMAK) wa’alaikumsalam........ Ini, Mak. Tinggal ini uang Bapak. Semoga cukup untuk makan besok pagi. Mana Surti?

44. Emak : Belum pulang je, Pakne. Mbok ya sampeyan cari sana tho Pak.

45. Bapak : Biarlah Mak. Nanti juga pulang sendiri. Asal pintu tidak usah dikunci. Bapak capek, mau sholat, lalu istirahat dulu. Ayo, masuk, Mak. Pijitin bapak saja. (MEREKA BERDUA LANTAS MASUK KE SISI PANGGUNG DALAM)

FADE OUT

ADEGAN III

Pagi harinya, terdengar kicauan burung bersahutan dan langgam jawa... Bapak muncul ke panggung, Membawa sebuah radio kecil, meletakkan di meja lantas mengutak-utiknya. Di panggung diperdengarkan suara rekaman penggalan berita

Isi berita (direkam): Para pendengar setia RRI yang berbahagia, info Jogja kembali kami sampaikan ke ruang dengar anda. Aksi anarkhis demo mahasiswa yang menuntut penurunan harga BBM kembali mewarnai negeri ini. Pagi ini, sejumlah mahasiswa dari salah satu universitas di Jogjakarta berunjukrasa di depan kantor DPRD kota Yogyakarta. Para oknum menemukan bahwa aksi unjuk rasa ini juga ditumpangi oleh para provokator yang berani membayar masa untuk ikut berunjukrasa. Para pengunjukrasa akhirnya berhasil merusak pagar dan memecahkan beberapa kaca jendela. Keadaan semakin ricuh ketika aparat mulai memberikan tembakan peringatan. Tindak anarkhis ini menyebabkan satu korban tewas dengan sangat mengenaskan......

(SEBELUM BERITA SELESAI, BAPAK SUDAH MEMATIKAN RADIO DENGAN MARAH)

46. Bapak : (MARAH) Katanya kaum intelektual, kok tingkahnya seperti berandalan! Tidak berpendidikan! Mau dibawa kemana nasib bangsa ini?

47. Emak : (BERTERIAK, MEMANGGIL DARI DALAM ) Pak! Pakne!

48. Bapak : Ada apa tho? Mreneo!

49. Emak : (TERGOPOH-GOPOH KELUAR MEMBAWA SELEMBAR KERTAS) Ini... ini bacalah, Pakne! Surti pergi! Oalah, Pak... gek kepiye iki?

50. Bapak : piya-piye.... Sik tho ini surat dari surti? (MELIHAT KE EMAK, EMAK MENGANGGUK) Berarti tadi malam anak itu pulang. (BERDIRI DAN MULAI MEMBACA)



Rekaman surat: Bapak... Emak... malu aku jadi anakmu. Tlah kerentangkan kedua telapak tanganku, tetapi tak cukup untuk sembunyikan rasa maluku. Tiga belas tahun aku menjadi anakmu, namun tak pernah kuluangkan waktuku untuk menyayangimu, meski tak pernah sedetikpun kau lupa mendoakanku. Tak pernah kubuat kau bangga dengan prestasiku, akhlak dan tingkah lakuku. Sungguh tak pantas aku menjadi anak emasmu. Mak... beri aku waktu, agar aku dapat kembali membuatmu haru karena bangga padaku. Bapak... Emak.. aku pergi. Aku akan mencari uang sendiri, bagaimana pun caranya, untuk membayar hutang-hutangku. Aku tak ingin membebani kalian lagi. Maafkan aku. Anakmu, Surti.



51. Bapak : (TERDIAM DI KURSI) Gek pergi kemana anak itu? Kali ini bapak kok khawatir, Mak.

52. Emak : coba tak datang ke saudara-saudara, Pak. Mudah-mudahan surti ke sana. (BERDIRI DAN HAMPIR KELUAR, NAMUN DARI ARAH LUAR PANGGUNG MUNCUL GURU DAN AMEL)

53. Guru dan Amel :Assalamu’alaikum...

54. Bapak dan Emak : Wa’alaikumsalam....

55. Guru : Bu, benar ini rumahnya Surti? Saya gurunya dan ini Amel, teman dekat Surti.

56. Emak : Iya, benar. Ada apa ya Bu?

57. Guru : Tadi Amel melaporkan bahwa Surti kabur. Ia tidak akan datang ke sekolah lagi. Makanya kedatangan kami kemari, berharap bertemu Surti, Bu. Salah satu teman dekat Surti saat ini juga sedang menelusuri keberadaan Surti di tempat-tempat nongkrong Surti, Bu.

58. Amel : Tadi pagi sekali waktu Surti mampir ke rumah saya, ia hanya terlihat kalut, minta maaf, lalu pergi begitu saja setelah meninggalkan surat ijin untuk sekolah dalam waktu yang tak terbatas.

59. Guru : Benar Bu, yang saya khawatirkan Surti itu kan sudah kelas tiga, sebentar lagi sudah akan mulai berbagai macam tryout. Kalau ini dibiarkan, saya takut Surti tidak lulus UN, Bu.

60. Emak : (MELIHAT KE BAPAK YANG SEDARI TADI HANYA TERDIAM) Duh Gusti, bagaimana ini, Pak?

61. Bapak : Apa di sekolah Surti punya banyak hutang, Nak Amel? Coba bacalah suratnya ini! (MEMBERIKAN SURAT AMEL YANG LANTAS DIBACA GURU)



62. Amel : Iya,Pak. Bahkan saya sering tidak habis pikir, surti yang sekarang itu kok bisa jauh berbeda dengan surti yang dulu. Yang saya dengar, Surti punya semacam cs di luar sekolah Pak. Dan mereka jauh lebih tua dari Surti. Nah, Surti sering nongkrong bersama mereka. Ia tidak mau lagi mendengar saran saya dan Via. padahal dulu kami begitu dekat.

63. Guru : Saya kok khawatir ya Pak. Di luar sana situasi sedang tidak bersahabat. Tapi semoga Surti terhindar dari marabahaya.

(HENING.... MUSIC MENINGGI TEGANG......TIBA-TIBA DATANG VIA MEMBAWA SEBUAH JAKET DAN TAS MILIK SURTI)

64. Via : Bu Guru, saya hanya berhasil menemukan jaket dan tas milik Surti di kafe depan kantor DPRD. Tapi saya tidak tahu Surti dimana. Kata pemilik kafe, mungkin tas dan jaket ini tertinggal saat situasi ricuh sekali, sepertinya baru saja ada demo. Bahkan kata orang-orang di sekitar sana, ada satu mahasiswi yang tewas mengenaskan menjadi sasaran tembakan warga yang kebetulan membawa pistol. Tetapi pemicu kericuhannya sudah ditangkap dan dipenjara, beberapa di antaranya justru perempuan.

65. Guru : Via, kamu tahu siapa nama korban yang tewas itu?

66. Via : Sudah dibawa ke rumah sakit Sarjito, Bu. Emh...sebentar, tadi dengar-dengar kalau tidak salah namanya ro...sa, Ya! Benar, namanya ROSA!

67. Emak : Masyaallah.... ROSA?! (KAGET, TERDUDUK LEMAS DI KURSI, PUCAT)

68. Bapak : Ada apa, Mak? Korban itu Rosa, bukan Surti. (TEGAS BAPAK)

69. Emak : (MALAH BERTERIAK) Duh...Gusti.... Surti!!..... (TERSEDU)

70. Bapak : Istiqhfar Mak! Semoga anak kita selamat.

71. Emak : (MENANGIS) Anak kita sudah mati,Pak...... Rosa itu nama samarannya Surti!!...

Surti sudah MATI!

72. Guru : Se... sebaiknya... kita cek dulu, Bu (BINGUNG)

73. Amel : Tapi Rosa itu memang nama samarannya Surti, Bu. Mendengar cerita Via, saya yakin korban tewas itu memang Surti dan Surti terlibat demo mungkin karena dibayar.

74. Bapak dan Guru : Innalillahiwainnailaihi rojiun..

75. Emak : S-U-R-T-I .....!!!!....... (PINGSAN DAN LANGSUNG DIPEGANGI OLEH GURU DAN AMEL)



MUSIK: Meninggi... Menyayat... dan slow....

NARATOR:


Sungguh, Allah itu Maha Segalanya. Allahlah Sang Maha Pencipta dan Maha Pengatur segala hal yang terjadi di dunia. Bersyukurlah kita akan segala nikmatNYA dan hanya kepadaNYAlah kita berlindung dari segala marabahaya. Sebagaimana yang terkandung dalam surat Ali ‘Imran ayat 145 yang artinya:


“Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa yang menghendaki pahala dunia, niscaya kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan baranga siapa menghendaki pahala akhirat, kami berikan pula kepadanya pahala akhirat itu, dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”






(Musik meninggi)


DEMIKIANLAH pemirsa, telah kita saksikan bersama persembahan drama yang berjudul “JANGAN PANGGIL AKU SURTI” karya : Ibu Yulian Istiqomah. Kami segenap kru yang terlibat mengucapkan terimakasih dan SAMPAI JUMPA!!

(The-End)

Monday, 23 April 2012

Pembacaan Puisi Bu Yulian Saat Diklat


Yang dibaca oleh Bu Yuian ini adalah puisi karangan beliau sendiri lho. Menurut pengakuan beliau, saat itu beliau sedang mengkuti diklat Pembelajaran Puisi untuk MGMP Bahasa Indonesia Se- Bantul  yang diselenggarakan di SMP N 1 Sewon. Nah... saat itu, beberapa guru dari SMP negeri sudah maju membaca puisi karya Chairil Anwar. Tetapi yang dari MTs kok belum ada yang tampil? beliau pun memberanikan diri tampil dan meminta ijin narasumber agar puisi karangan beliau sendirilah yang dibaca. dari hampir 100 puisi yang beliau buat, beliau memilih puisi yang berjudul "Tidakkah kita wajib bersyukur". Yuk Kita lihat seperti apa pembacaannya!!

Tuesday, 3 April 2012

foto kaos klub teater fatwa terbaru (2012)







Ayo bagi para siswa yang ingin ikut pesen kaos, silahkan segera daftar dan membayar ke bu Lutfi...
panjang Rp. 50.000,-
Pendek Rp. 45.000,-