Sunday, 30 May 2010

TRAGEDI KALUNG ANTIK



Karya: Yulian Istiqomah, S.Pd.


Prolog: (dengan iringan music) oleh narator
Ya! Kehidupan dunia fana ibarat pangung sandiwara yang harus dimainkan sesuai kehendakNYA. Kaya-miskin, baik-buruk, suka-duka, benar-salah, tangis-tawa, dan segala yang bertentangan di dunia, adalah ujian bagi keimanan manusia. Duhai... Dzat Yang Maha Bijaksana... telah Engkau beri balasan bagi setiap kejahatan. Ttelah Kau beri imbalan pada setiap amal kebaikan.. Sunggguh, Telah Engkau hadirkan jua di antara kami Al-Qur’an, sebagai Pemandu untuk menggapai ridhoMU.

(musik meninggi sejenak)

Para pemirsa… Klub “Teater FATWA” MTsN Sumberagung Jetis Bantul di bawah bimbingan Ibu Yulian Istiqomah dan Ibu Lutfiatul Khasanah, dan berserta segenap kru Poduksi, dengan BANGGA…. mempersembahkan sebuah drama yang berjudul “TRAGEDI KALUNG ANTIK” Karya Yulian Istiqomah, dengan Pemain : ............ sebagai Yu Sri, .............. sebagai Pemulung, .......... Sebagai Penjual Sarung, ............ Sebagai Penjual Krupuk, ................... sebagai Sapto, ............. Sebagai Pengamen, ............ Sebagai Rentenir, .............. Sebagai Tukang Becak. ............. sebagai Pengemis, ........ sebagai Polisi, ........ sebagai Kepala Pasar, ......... sebagai Copet, ............. Sebagai Pedagang 1, ........... sebagai Pedagang 2, dan ......... sebagai Pembeli.


----------Selamat Menyaksikan!!............


SETTING:
MENGGAMBARKAN SUASANA DI PASAR. TERJADI TRANSAKSI JUALBELI BARANG KEBUTUHAN. SEORANG PENGAMEN SIBUK MERAYU PEMBELI SAMBIL NYANYI. TIBA-TIBA ADA SEORANG WANITA BERTERIAK SAMBIL MINTA BANTUAN

  1. Yu Sri : Oalah… Gusti! Tolong….. copet…..!!! Ciloko iki, Coppeeetttt!!!

BERSAMAAN DENGAN TERIAKAN ITU, COPET LARI DAN MENUBRUK SEORANG PEMULUNG YANG KEBETULAN MEMAKAI PAKAIAN MIRIP HINGGA TERJATUH DAN LARI. BEBERAPA PEDAGANG LANGSUNG MENDEKATI YU SRI.

2. Penjual Sarung : Lho Yu, kamu itu kenapa tho? Kok ndremimil kaya orang edan saja.
3. Yu SRI : Saya ndak edian, Kang! Saya kecopetan! Lihat, Kalung antik peninggalan ibuku amblas!

MENDENGAR ITU PEMULUNG MENYADARI BAHWA ORANG ITU COPET DAN BAJUNYA MIRIP DENGANNYA. MELIHAT ORANG-ORANG BERKERUMUN MARAH, PEMULUNG ITU KETAKUTAN KEMUDIAN LARI.

4. Yu Sri : Tolong kejar kalung saya… Duh Gusti… Itu copetnya larii!!...
5. Penjual Krupuk : Yu, Mana Copetnya?
6. Yu Sri : (TENGANNYA MENUNJUK KE ARAH KELUAR PANGGUNG) Kaos putih, pake caping.
7. Sapto : Pasti belum jauh. Ayo kita kejar!.
8. Pengamen : (DENGAN GAYA BANCI) Bethul, Ganteng. Yuuk…kejar. Cap cuss!! (IKUT LARI)

MEREKA MENGEJAR COPET ITU. DI PASAR TERSEBUT HANYA TINGGAL PEDAGANG 1, 2, DAN SEORANG PEMBELI YANG MASIH TRANSAKSI JUAL BELI. YU SRI HANYA KEBINGUNGAN.SEORANG TUKANG BECAK MASUK SENYAM-SENYUM MENDEKATI YU SRI.


9. Tukang becak : (KIKUK) Ee… anu Yu.Itu.. em...barangnya sudah diterima bapak di rumah. (YU SRI BUNGKAM. TUKANG BECAK BINGUNG MENGAWASI YU SRI YANG TAMPAK SUSAH) Oh.. anu Yu, honor saya besok juga ndak apa-apa kok. Tapi kalau mau sekarang... ya kebeneran, saya tidak marah kok.
10. Yu Sri : (MELOTOT DAN MARAH) Sampeyan ndak dong tho?!
11. Tukang becak : (KAGET) Lho, lho… ada apa tho, Yu?
12. Yu Sri: Ada apa? Aku baru saja kecopetan. Kalungku amblas. Tahu sekarang!

13. Tukang Becak : (KAGET) Waduh! Kalau begitu kasihan ya?
14. Yu Sri: (DONGKOL) Kasihan dengkulmu!
15. Tukang Becak : Alah nesu! Yu, Lapor Polisi saja. Begitu saja kok repot!
16. Yu Sri : Sudah!
17. Tukang becak : Yu..Sri.. Menurut primbon simbah saya, sabtu pahing itu memang hari apes. Terus…
18. Yu Sri: Ah, Sudah-sudah. Pokoknya aku cuma pengin kalungku dibalekke. Itu saja. Aku tak perlu mendengarkan ocehanmu itu.
19. Tukang Becak : Jangan begitu, Yu. Mungkin saja bisa dirunut dari sini. (KEMUDIAN MASUK RENTENIR DENGAN TERGOPOH-GOPOH, KAGET MELIHAT YU SRI MENANGIS. TUKANG BECAK TERKEJUT.) Hemm... Mati aku! Mbokde yang satu ini bakal marah..
20. Rentenir : (MENATAP TAJAM TUKANG BECAK) Sini Kau! (TUKANG BECAK MENDEKAT..TAKUT) Kucomot honormu kalau kau macam-macam. Kutunggu dari tadi kau tak datang-datang juga antar belanjaanku?!!

21. Tukang Becak : Wah, jangan Mbokde... Ups madam. Itu namanya PHK tingkat pertama. (RENTENIR MELOTOT MARAH. TUKANG BECAK KAGET, TAKUT, LARI KELUAR). Oke! Yes ma’am!
22. Rentenir : Tadi kudengar rame-rame itu tadi ada apa tho, Yu?
23. Yu Sri : (MENDONGAK) Oalah Jeng,… kalung saya itu dicopet!
24. Rentenir : (KAGET) Wah.. Kurang ajar, itu Copet! Berapa gram, Yu?
25. Yu Sri : Dua puluh gram, Jeng. Kalung itu harta peninggalan Almarhum ibu saya. Barang antik itu Jeng. Emas jaman dulu. Oalan apes tenan aku.
26. Rentenir : Wah... tiada duanya itu, Yu. Harus ketemu kalau begitu. Tak bisa dimaafkan itu copet. (YU SRI MULAI TERISAK)
27. Yu Sri : Padahal kalung itu tadi mau aku gadekan untuk tambah-tambah ongkos naik haji.
28. Rentener : Jaman sekarang apa-apa duit sing jadi masalah. Beda dengan jaman dulu! Terus piye, Yu?
29. Yu Sri : (BERDIRI) Rasanya, aku jadi tambah mangkel iki, Jeng!
30. Rentener : Malingnya itu siapa tho, Yu?

31. Yu Sri : (KETUS) Lha kalau aku tahu itu namanya aku ndak kemalingan, Jeng!
32. Rentener : Woo… iyo yo? Begini saja, Yu. Ini kan mau ada penertiban di pasar ini. Nah, kita bilang saja sama petugas ketertiban pasar kalau ada maling di pasar ini.
33. Yu Sri : Apa perlu kita ngomong siapa malingnya, Jeng?
34. Rentener : Walah! Piye tho sampeyan ki. Lha wong malingnya belum ngerti siapa kok. Aeng-aeng saja! (LIHAT JAM TANGAN) Waduh! saya tak ngetutke tukang becak tadi itu dulu, ngeyel je, Yu. Wis... moga segera ketemu.



RENTENER PERGI, YU KESI TERLIHAT PUSING, MONDAR-MANDIR SAMBIL MEMIJAT KEPALANYA. PEMBELI PERGI, PEDANGANG 1, 2 MENGEMAS DAGANGANNYA, LALU KELUAR PANGGUNG TEPAT KETIKA SEORANG GADIS KECIL BERPAKAIAN DEKIL DENGAN TUBUH LUNGLAI MENDEKATI YU SRI MENYODORKAN KALENGNYA.


35. Pengemis: Bu.... Kasihani saya, Bu! Mohon bantuannya, Bu. Adik saya sakit keras dan tiga hari kami belum makan, Bu!
36. Yu Sri: (MELOTOT) Heh.... kasihani gundulmu? Saya juga habis kecopetan. Tahu!! (MENDORONG PENGEMIS ITU AGAR PERGI) Pergi sana!! (PENGEMIS TERJATUH, KALENG DAN BEBERAPA KEPING UANG DI KALENGNYA TERLEMPAR).
37. Pengemis: Astagfirullahal’adzim.... Mungkin Allah mengambil kembali harta Ibu karena ibu tidak pernah bersedekah pada kaum dhuafa seperti saya. (BERUSAHA BANGKIT).
38. Yu Sri: Eh.. malah khutbah! Wong ngemis kok maksa! Huh! (MENDORONG PENGEMIS HINGGA JATUH KEMBALI SAMBIL BERGEGAS KELUAR PANGGUNG)

PENGEMIS ITU KEMBALI BERUSAHA BANGKIT, NAMUN IA SEPERTI MELIHAT SESUATU DI DEKAT POT BUNGA. IA MENGHAMPIRI DAN MERAIH BENDA ITU. BETAPA TERKEJUTNYA IA MELIHAT SEBUAH KALUNG YANG BEGITU INDAHNYA. IA BERJALAN MONDAR-MANDIR PANGGUNG SAMBIL MENGAGUMI KALUNG ITU. KEMUDIAN BERHENTI. PANDANGANNYA MELAYANG.

39. Pengemis: Wuah... indah sekali. Seperti kalung antik. Alhamdulillah.... Ini pasti rizki dari Allah sebagai jawaban doa-doaku. Dengan kalung ini, aku bisa makan, bisa membelikan adikku Obat, makanan, dan pakaian, aku bisa mengontrak rumah dan pergi dari tempat penampungan sampah itu. Jika beruntung aku bisa sekolah. Kalung ini sekarang milikku. Aku tidak mencuri, tapi aku menemukannya. (WAJAHNYA BERUBAH CERIA MENGHADAP PENONTON) Ya!.. haha... aku menemukannya!! (SAMBIL BERLARI KELUAR KEDUA TANGAN TERENTANG) Hahaha... Aku kaya!!

PANGGUNG KOSONG. TERDENGAR RAMAI-RAMAI DARI JAUH. COPET TELAH DITANGKAP. COPET YANG SUDAH BABAK BELUR ITU DILEMPARKAN DENGAN KASAR.


40. Sapto: Kepruki saja!
41. Penjual Krupuk : Nek ndak ngaku, bunuh sekalian!
42. Penjual Sarung : Jangan, Kita hajar saja dia! Bagimana?
43. Pengamen : Wocre!..Setunyuk...eh..setuju!(TERSENYUM MALU-MALU)

KETIKA MASSA HENDAK MELAMPIASKAN MARAHNYA, TIBA-TIBA POLISI DATANG BERSAMA KEPALA PASAR.


44. Kepala Pasar : Eh, jangan main hakim sendiri?Serahkan saja pada Bapak Polisi ini. Ada apa tho?
45. Penjual Sarung : Copet, Bu. Pak polisi...dia telah mencopet kalung antik milik Yu Sri. Tapi mengelak.
46. Polisi : Apa kamu melihatnya sendiri?
47. Penjual Krupuk : (WAKTU POLISI DIALOG, IA MENDEKATI KROMBONG KRUPUKNYA DAN MENGELUARKAN 6 KERUPUK , LALU KEMBALI LAGI) Tapi ya pancen ini copetnya kok, Pak Polisi. (BAGI-BAGI KRUPUK. ). Wah... monggo-monggo ini pacitannya. Monggo Pak polisi. Rak belum merasakan krupuk bikinan saya tho?
48. Penjual sarung: (JITAK KEPALA PENJUAL KRUPUK) Huss! Kowe ki, lha kok malah towo krupuk tho? Dasar bakul! (MEMANDANGI KRUPUK LANTAS MENGGIGITNYA.)
49. Polisi : (SAMBIL MAKAN KRUPUK) Sudah-sudah! Apa buktinya? Kita tidak boleh bertindak tanpa bukti. (NENGOK KE KEPALA PASAR) Emh... enak..yo, Bu. (MELOTOT KE PENJUAL SARUNG) Jika copet itu mati. Kalian justru yang akan kena hukuman.
50. Penjual Sarung : (MARAH SAMBIL MAKAN KRUPUK DENGAN LAHAPNYA) Maaf, Pak. Semua yang di sini adalah saksi bahwa dia yang mengambil kalung itu betul tidak saudara-saudara? Soal bukti, saya yakin copet ini menyembunyikannya. Jadi silahkan tanya padanya!
51. Pengamen + Sapto : Betul itu, betul!(SAPTO KESELEK. BATUK-BATUK. LANGSUNG DIPUKUL-PUKUL PENUH SAYANG PUNGGUNGNYA OLEH PENGAMEN. TAPI MALAH MARAH. PENGAMEN MANYUN)

KEPALA PASAR MENDEKATI COPET DAN MENANYAINYA

52. Kepala Pasar: Benar kamu mencuri kalung itu?
53. Pemulung : Tidak (SAMBIL MENGGELENG LEMAH)
54. Penjual Sarung : Masih juga mau mengelak! (HENDAK MEMUKUL COPET TAPI DIHALANGI OLEH KEPALA PASAR )
55. Kepala Pasar : Sabar! Sabar, Pak! (MENCOBA MENENANGKAN MASSA YANG MULAI MARAH DAN KEMBALI MENANYAI COPET)
56. Kepala Pasar : Kamu buang kalung itu?
57. Pemulung: Tidak
58. Kepala Pasar : Kamu sembunyikan?
59. Pemulung : Tidak
60. Polisi : (HERAN, MEMANDANG SEKELILING) Atau jangan-jangan kalian memfitnah orang ini?
61. Sapto : (MARAH) Dia hanya bisa bilang Tidak! Ayo, Siksa! (MASSA MARAH. SEMUA MENCOBA MEMUKUL COPET. KALI INI KEPALA PASAR KEWALAHAN. COPET TERKENA PUKULAN PENJUAL SABUK DAN JATUH. TAPI IA DUDUK KEMBALI.)
62. Pemulung: (BERTERIAK DENGAN SISA-SISA TENAGANYA MEMANDANG SEKELILINGNYA) Saya tidak mencuri kalung itu, Pak Polisi. (LALU TERKAPAR TAK ADA YANG PERDULI)
63. Kepala Pasar : (KE ARAH MASSA)Kalian yakin melihatnya? (HENING.. SEMUA MIKIR)
64. Pengamen: (WAJAH CERIA. LALU BERTERIAK) Aha! Prikitiew! Pakaiannya sama, Pak Ganteng!
65. Penjual Sarung : Pakaiannya?..Bet..Betul itu... kaos putih dan memakai caping. Itu kata Yu Sri. Pemilik Kalung itu. 20 gram dan Antik. Bukan benda sembarangan itu, Pak. Dan harus kembali!!

66. Polisi : (MENGAMATI COPET) Maaf. Bukan tidak percaya tapi banyak yang berpakaian seperti ini.
67. Kepala Pasar : Secara logika... memang banyak yang memakai kaos putih. Tapi jarang yang memakai caping. Dan Copet ini....


MASSA BERTERIAK... MEMBENARKAN. DI KEJAUHAN YU SRI DATANG BERSAMA SUAMINYA. SEMUA MENEPI DAN MEMBIARKAN MEREKA MENDEKATI COPET ITU.

68. Yu Sri : (MEMANDANG COPETNYA) Pakne!.. lihat ini yang mencopet kalungku! Kenapa pada diam saja? Hajar dia!
69. Suami : (MENARIK YU SRI MENJAUH KE ARAH PENONTON) Huss, sabar, Bune! Ndak boleh bersikap seperti itu. Memalukan. Ndak lihat apa... copet itu sudah tidak berdaya?
70. Yu Sri : (TIDAK TERIMA) Pak, sampeyan itu bagaimana! Kalung peninggalan Almarhuman ibu dicopet. Kalung itu mau saya gadai untuk tambah kita pergi haji, Pakne. Kalau kalung itu tidak ketemu, Lha kita mau cari tambahan dari mana?


(DILAKUKAN TANPA SUARA AGAR DIALOG YU SRI DAN SUAMI TERDENGAR). PENJUAL KRUPUK MENCOBA MEMBANGUNKAN COPET ITU. PENJUAL SARUNG SEOLAH MENANYAI COPET YANG HANYA MENGGELENG LEMAH. LANTAS SAPTO KALAP DAN MEMUKUL KEPALA COPET. COPET KEMBALI TERKAPAR. POLISI SAPTO KEMBALI BERDIRI. PENGAMEN DENGAN KEMAYU MENENDANG KAKI COPET. LALU DITARIK KEPALA PASAR.


71. Suami : Menuduh tanpa bukti itu bisa jadi Fitnah, Bune. Dosa besar. Allah justru murka pada kita.
72. Yu Sri : (AGAK MENDEKAT. MENUNJUK COPET) Lihat pakaiannya, Pak. kaos putih pakai caping. (MENDEKAT KE SUAMINYA) Berapa banyak orang yang berpakaian seperti ini? (MASA BERBISIK-BISIK MENGAMATI SUAMI ISTRI ITU)
73. Suami : Dia sudah disiksa massa, Bune. Sampai mau mati seperti itu. Jika ia pencurinya tentu sudah ngaku dari tadi. Pencuri sekalipun pasti ndak mau bunuh diri dengan cara seperti itu. Mesti ia milih dihukum..bebas..lalu nyuri lagi. Sudah! Sekarang cabut saja tuduhan Ibu itu.
74. Yu Sri : Tidak, Pak. Pokoknya aku cuma ingin kalung itu kembali untuk bekal naik haji, Pakne.
75. Suami : Bune, musibah ini menandakan bahwa kita belum mendapatkan panggilan haji dari Allah.
76. Yu Sri : Apa Supardi tidak malu sama Supradi itu, si miskin itu malah sudah naik haji. Ibu tidak mau malu, Pak!
77. Suami: Bu, kalau ibu terus seperti ini, Bapak yang malu. Kita ikhlaskan saja. Bapak takut kalau Allah justru menjauhkan rizki kita karena perbuatan kita ini.
78. Kepala Pasar: (MENDEKAT) Bagaimana Yu Sri? Benar dia copetnya...(HENING)
79. Yu Sri: (MARAH) Bawa dia ke kantor polisi!! Harus diadili... saya tidak rela jika dibiarkan begitu saja.
80. Suami : Astaghfirullah...Bune? Istighfar.. (YU SRI BUNGKAM. SUAMI GELENG-GELENG MENATAP IBA COPET ITU)
81. Penjual Sarung : Ayo bangunkan dia. Memang sebaiknya dibawa ke kantor polisi, Pak.

ORANG-ORANG MULAI MEMBENARKAN.. LALU MEMBERDIRIKAN COPET ITU. SAPTO KEMBALI MENJITAK KEPALANYA. KETIKA SUDAH SIAP BUBAR. TERDENGAR TERIAKAN RENTENER DARI LUAR.


82. Rentener : Copppeeeettt! Tolong!...

PANGGUNG HENING. SEMUA ORANG KAGET. SALING MEMANDANG. TERMASUK YU SRI. LALU MEREKA MEMANDANG KE COPET YANG MEREKA ANIAYA. TUKANG BECAK LARI MENDEKAT PANGGUNG DENGAN TERGOPOH-GOPOH.

83. Tukang Becak: (NGOS-NGOSAN, MENATAP KEPALA PASAR) Lap...Lapor, Juragan. Madam Rentenir kecopetan. (MEMANDANG COPET YANG SUDAH LEMAS, BINGUNG). Lho... ini. Walah... Pak Slamet? Wadoh..kasihan sampean, Pak. Tragedi ini. (BERTERIAK KE MASSA) Dia ini pemulung. Bukan dia copetnya! Tapi disana! Cepat...Tangkap!!.. (MENEPI DAN BERGAYA SEPERTI MENGOMANDO PASUKAN. LANTAS SENYUM. DENGAN TEGAP MENGIKUTI ROMBONGAN)


SEMUA ORANG SEGERA BERLARI KE ARAH YANG DITUNJUK TUKANG BECAK. COPET TERDORONG KE TENGAH PANGGUNG DAN JATUH TERKAPAR KEMBALI. YU SRI BIMBANG. MELIHAT KE COPET YANG TERKAPAR DAN KELUAR PANGGUNG. SUAMI MENDEKATI COPET. DAN MENGUSAP WAJAH COPET DENGAN SAPU TANGANNYA DAN MENYELIPKAN SATU BENDEL UANG DI TANGAN COPET ITU. COPET TAK MAMPU BICARA.


84. Yu Sri: Ah.. Kalungku, Ayo Pakne!

YU SRI DAN SUAMI KELUAR PANGGUNG. PENGEMIS MASUK PANGGUNG MEMBAWA BERBAGAI BUNGKUSAN BELANJAAN. TERKEJUT MELIHAT SESEORANG TERKAPAR DI SANA. KETIKA MENGENALI ORANG ITU ADALAH AYAHNYA, IA BERTERIAK.


85. Pengemis : (LARI KE SISI TUBUH COPET) Bapak!!..... (MENANGIS IBA. MENGGUNCANG TUBUH AYAHNYA) Bapak... kenapa, Pak? Apa yang terjadi? Surti sudah bawa makanan dan pakaian untuk kita sekeluarga Pak. Surti juga sudah cari rumah untuk kita berteduh, Pak. Allah memberi rizki yang besar pada Surti tadi. (MENANGIS) Surti tidak mencuri.
86. Pemulung : (TERBATUK. MENCOBA BERGERAK) Surti...
87. Pengemis : (TERKEJUT DAN TERSENYUM SENANG) Bapak!!.. bapak masih hidup? Apa yang terjadi, Pak?
88. Pemulung: Bapak... difitnah Mencopet Kalung Milik Yu Sri.. (KEMBALI PINGSAN)
89. Pengemis : (TERKEJUT) Apa? Kalung? (MEMENADANG BELANJAANNYA LALU KE AYAHNYA) Jadi... mereka mencari kalung antik itu? Kalung yang kugadai itu? (PENUH SESAL. MENATAP AYAHNYA YANG PINGSAN. KETAKUTAN) Bapak!..Bapak! Bangun... Maafkan Surti, Pak!.. (TAK ADA TANGGAPAN)
90. Pengemis : (SEDIH... MENATAP KE ATAS. BERTERIAK) Ya Allah.... Mengapa hanya sebentar saja Engkau beri aku kebahagiaan? Ampuni aku ya Allah. Lebih baik aku tetap kelaparan .... daripada mendapat kalung antik itu ... hanya membawa petaka bagi Bapakku... Tragedi bagi keluargaku (MENGGUNCANG TUBUH AYAHNYA. MENANGIS PILU) Bapak!... Maafkan Surti...

H E N N I N G........... (Musik...)

NARATOR:
Tak ada yang sempurna dalam kehidupan ini. Allah menciptakan laki-laki dan perempuan, agar sebagian menjadi penolong bagi yang lain. Mereka hendaknya berbuat kebaikan, dan mencegah dari segala tindak kemungkaran. Menjauhlah dari segala bisikan setan yang menyesatkan. Sesungguhnya Allah telah berfirman dalam surat An-Nisa ayat 114, yang artinya:
“Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan dari orang yang menyuruh untuk bersedekah, berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Siapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak kami akan memberinya pahala yang besar.”


(Musik meninggi)

DEMIKIANLAH pemirsa, telah kita saksikan bersama persembahan drama yang berjudul “Tragedi Kalung Antik” karya : Ibu Yulian Istiqomah. Kami segenap kru yang terlibat mengucapkan terimakasih dan SAMPAI JUMPA!!

(The End)

Wednesday, 26 May 2010

"Binar asa anak cucu kita"

Hey..lihatlah...
Bagaimana bola mata jernih mereka menatap bangga pada kita.
Polos... tulus... penuh asa...
Lengkap dengan senyum kecil yang tersungging lucu di bibir mungil mereka.
Wajah yang merona...
dan Ibu jari mungil yang teracung malu ke arah kita.

Duhai...
Marilah sama-sama kita kalungkan kenyamanan dan kemapanan dalam hidup anak cucu kita.
Tegakah kita jejalkan rasa kecewa dalam hati mereka??

Hey...lihatlah pula...
Di masa mendatang, mereka adalah urat nadi penerus dinasti keluarga kita.
Duka mereka adalah kegagalan kita!!..
---------------------------------------------------------------------------
Oleh: Yulian Istiqomah

"Tidakkah kita Wajib bersyukur?"

Anakku, lihatlah..
Di sudut-sudut kota sana
Anak-anak jalanan menengadahkan tangan
Mengemis, mengamen, mencuri, merampok
Hanya demi memenuhi hal perut lapar mereka

Dengarlah...
Di kolong-kolong jembatan sana
Janda-janda netapa merintih pedih
Mengasi timbunan sampah hanya demi sesuap nasi
Untuk mebungkam tangis kelaparan anak-anak mereka

Dan perhatikanlah...
Di persimpangan sana
Para ayah susah payah, membasuh peluh
mengabaikan teriakan letih tubuh mereka
menegakkan perut lapar mereka
berjuang menaklukkan hari dan pulang dengan senyum penuh syukur
membawa nasi bungkus impian anak-anak mereka

Tapi lihatlah jua anakku....
Orang-orang itu, yang hanya duduk berpangku tangan, membaca koran
menghabiskan waktu dan pulang sebelum jam satu
namun selalu tepat waktu mengantri setiap tanggal satu
dengan binar mata yang berkata, ini HAKKu!

Dengarlah jua...
Mulut-mulut yang mencibir makanan kampung
yang disajikan dengan penuh tetesan peluh
Yang mengerang kala perut tak terpuaskan
dan mengaum kala harta tak terbagi samarata

Duhai anakku...
Apa yang kita puna ketika kita lahir dari rahim ibunda?
Apa yang akan kita miliki ketika kita mati dan dikubur nanti?
Di mana hati nurani kita?
Mencecar rizki yang dititipkan Allah pada kita?
TIDAKKAH KITA WAJIB BERSYUKUR??....

---------------------------------
Oleh: Yulian Istiqomah, S.Pd.

Tuesday, 13 October 2009

Naskah Drama "STRESS"




Karya Yulian Istiqomah, S.Pd


Prolog: (dengan iringan music) oleh narator
Ibarat seorang musafir di padang pasir yang tak pernah terpuaskan dahaganya, nafsu dan keinginan manusia tak akan pernah ada habisnya. Tak dapat terkendali kecuali dengan iman yang bersemayam dalam jiwa. Namun… apabila nafsu dan asa manusia tak lagi dapat terpuaskan oleh harta, cinta, bahkan norma…. Maka di dalam kemelut jiwa yang kian mendera… sesungguhnya Syetan-lah sang jawara di atas keterpurukkan iman dan logika kita.
(musik meninggi sejenak)
Para pemirsa… Klub “Teater FATWA” MTsN Sumberagung Jetis Bantul di bawah bimbingan Ibu Yulian Istiqomah, S.Pd dan Ibu Lutfiatul Khasanah, S.Pd, dan Supervisor Muh.Annas Bangkit Widyanarto, berserta segenap kru Poduksi, dengan bangga…. mempersembahkan sebuah drama yang berjudul “STRESS” Karya Yulian Istiqomah, S.Pd., dengan Pemain : (Husen) sebagai Ayah, (Latifah) sebagai Ibu, (Dayu) Sebagai Darto, (Yuli) Sebagai Siti, (Elita) sebagai Orang Gila, (Aulia) Sebagai Rentenir, (Intan) Sebagai Tetangga, (Avin) sebagai Dokter, (Robi) Sebagai Pengamen. (Reni) sebagai Warga 1, (Agus) sebagai warga 2, (Sukma) sebagai warga 3, (Mifta) sebagai perawat 1, dan (Heru) sebagai perawat 2.----------Selamat Menyaksikan!!............

Setting:
Di sebuah ruang tamu sederhana terdapat meja, kursi, dan di belakang kursi ada sebuah almari kecil dan Hiasan Dinding. Di Kursi itu si Ibu dan Si anak (Siti) sedang duduk berdua sambil memamerkan baju, HP, dan perhiasan baru yang mereka pakai tak perduli pada si Darto (anak Idiot )yang sibuk dengan pulpen dan bukunya di lantai berusaha menulis

  1. Siti : “Aduh! Aku pasti kelihatan cantik sekali ya, Mi ya? Coba dech Mami lihat aku. Baju baru, sepatu baru, perhiasan, HP baru. Wuah…senangnya. Oh iya, aku sudah kelihatan borju belum, Mi?” (berdiri menunjukkan semua yang disebutkan dengan antusias dengan gaya centil)
  2. Ibu : “Dasyat, Sayang! Kamu sudah seperti primadona. Teman-teman kamu di sekolah pasti langsung ngefans semua sama kamu, Siti Sayang, anak mami yang paling cantik! Ndak sepeti si Darto Idiot ini. Huh, bikin malu saja!” (berdiri memeluk Siti melotot marah ke arah Darto)
  3. Siti : “Ough…terimakasih. Mami memang mami paling baik sedunia!” (mereka berpelukan.tertawa). “tapi kapan kita punya motor Mio, Mi? Padahal si Dina itu sudah…..” (Siti Manyun trus duduk)
  4. Rentenir : “Assalamu’alaikum….” (Masuk dan langsung pasang senyum siap nagih utang)
  5. Ibu : “Wa’alaikumsalm… Maaf Bu Tatik, saya belum dapat bayar utang..” (tanpa Dosa)
  6. Rentenir : “Wah..ndak bisa gitu tho Yu.. Mbakyu ini sudah utang 10 juta. Ini hari yang mbakyu janjikan itu. Saya datang menagih janji. Jangan ingkar terus. Sesuai catatan saya, mbakyu hari ini harus bayar 500 ribu. Ayo, mana uang itu?” (mulai marah mendekati Ibu, Siti langsung berdiri)
  7. Siti : “Eh, kalau mamiku bilang tidak punya uang, itu ya berarti belum dapat bayar utang, Tante! Dunia belum kiamat kok, masih banyak waktu. Ya tho Mi? Ah, tante ini. Gitu saja kok repot!” (dengan wajah tanpa dosa yang membuat rentenis itu makin marah)
  8. Rentenir : “Mami... mami. Ibu dan anak sama saja. Kalo miskin itu mbok ya miskin saja. Ndak usah berlagak borju. Takabur. Eh, Yu! Suamimu itu sudah bangkrut. Sekarang Cuma jadi KULI! Mau bayar pake apa dia? Pake batu? Mbok hidup itu sak madya saja, Yu! Ndak usah neko-neko. Ah, Sudah! Saya ndak mau tawar lagi. Pokoknya 2 hari lagi saya kemari. Jika belum bayar juga akan saya sita barang-barang yang ada di sini! Termasuk perhiasan dan baju-baju kalian itu!..... Permisi!” (langsung pergi)
  9. Darto : (Menarik-narik rok Ibunya dan berkata dengan susah payah) “Pen… Bu…pen...!” (menggoyang-goyangkan pen-nya) “Hab…habis… mau… yang….balu…” (merengek)
  10. Ibu : (menimpuk kepala Darto dan mendorong-dorong badannya) “Huh! Pen baru kepalamu! Anak tidak berguna! Tahu seperti ini, ibumu ini tidak mau melahirkan kamu. Mbok….kamu itu bekerja! Cari uang di jalan sana!” (melampiaskan emosi)
  11. Darto : (mencoba bangun sambil menangis) “as…to…pirlloh al adzim…Belcyukul…pada Alloh, ibu.. jangan..unda…kebaikan, maut…datang… ka..pan…aja…I..buuu…”
  12. Ibu : “Eh….anak kurang Aj…..!” (Tangan terangkat akan memukul Darto, tapi segera ditahan Siti)
  13. Siti : (tersenyum manja bergelayut di lengan ibunya).”E…. sudah, Mi. daripada ngurus Darto mending kita masak di dapur yuk, Mi. Siti laper nich…”
  14. (mereka keluar panggung, Darto sendirian bingung berdiri melongok keluar pintu masuk. Memainkan bukunya lagi. Tiba-tiba terdengar suara ledakan yang sangat keras. Darto terkejut, berteriak memanggil Ibu dan Siti.)
  15. Darto : “Ibuuuuu……!!”…. “Siittiiii……!!” (lari ke dalam rumah, keluar lagi sambil menangis)
  16. (Tetangga dan 3 orang warga lainnya datang dengan raut wajah bingung. Tetangga langsung mendekati Darto)
  17. Tetangga : “Darto!!… apa yang terjadi, le? Suara ledakan apa itu? Mana ibu dan mbakyumu, Darto?”(melihat Darto hanya duduk menangis di kursi, tetangga dan 3 orang warga masuk. 2 warga keluar lagi diikuti tetangga)
  18. Tetangga : (Teriak) “Api!...Kebakaran!...Aduh, Bagaimana ini?...Padamkan!...Ambil air!... Ceppaaaattt!!”(Tetangga masuk lagi ke dalam, sebentar kemudian keluar, sudah hampir sampai ke pintu keluar, balik lagi mendekati Darto bertepatan dengan 2 warga tadi yang masuk ke dalam rumah membawa ember/slang)
  19. Tetangga : “Darto…saya panggil dokter dulu! Kamu di sini saja. Jangan masuk! Kamu ngerti kan?” (pergi) (2 warga lari keluar membawa ember, berpapasan dengan ayah yang baru pulang kerja dan kebingungan. Melihat ayahnya datang, Darto langsung bangkit dari duduknya dan memeluk ayahnya)
  20. Ayah : “A...Ada apa ini?... Darto… ada apa ini, Le?” (mengguncang tubuh Darto,lalu melepaskan)(Ayah berniat masuk ke dalam, namun tepat sebelumnya tetangga dan seorang dokter dan perawat 1 datang)
  21. Tetangga : “Tunggu, Pak! Jangan kesana! Bahaya! Silahkan dokter!”( dokter dan perawat 1 masuk)
  22. Ayah : “Apa yang terjadi? Kebakaran? Oh…Tidak!...Rumahku tidak mungkin kebakaran, mbakyu!... (Tetangga mengangguk. Ayah terliat shock) “Ya…Allah! Kenapa bisa seperti ini? Lalu… mana anak dan istriku?!... Katakan!” (mengguncang lengan tetangga)
  23. Tetangga : “Sab…sabar, Pak! tabung gas bapak meledak dan…,Tap..tapi..Saya mohon, bapak harus kuat menerima takdir Allah ini. Istri dan anak bapak….” (warga 1 muncul, wajah dan baju kusut)
  24. Warga 1 : “Mbakyu, api sudah padam. Tapi bagian rumah belakang habis terbakar. Kedua jenazah sudah diamankan. Permisi, saya akan segera cari ambulan. (melihat ke Ayah) sabar ya, Pak!” (keluar)
  25. Ayah : “Dua?..Du..Dua jenazah?!...(shock)… Siti, anakku?! Surti, Istriku?!...Oh…ini tidak mungkin!! Mereka tidak mungkin mati!!.. Katakan pada bapak, Darto! Ini tidak nyata!.. haha… katakan bahwa bapakmu ini Cuma mimpi, le!!.. (memeluk Darto) Oh….mereka tidak mungkin mati, le!”
  26. Dokter : (masuk panggung diikuti perawat 1) “Jenazah keduanya hangus terbakar, sulit dikenali mana si ibu dan si anak. Sekarang sudah dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi lewat belakang. Kami turut prihatin, sungguh tragis nasib mereka. (memandang ke tetangga) Bu, Sebaiknya….ibu ikut kami ke rumah sakit untuk memeriksakan mereka. Kelihatannya mereka shock dan mohon bantuannya untuk mengurus segala sesuatunya. Mari!”….(semua keluar dari panggung. Panggung kosong. Diisi musik dan narator. Kru mengeluarkan meja dan kursi. Lalu memasukkan kursi taman panjang)
  27. Narator : “Musibah, keterpurukan, dan ketidakberdayaan… datang silih berganti. Menguji kekuatan iman yang terpatri. Namun… apabila ujian tak diterima dengan keikhlasan hati… maka emosilah yang akan memperbudak hati nurani. Dua hari kemudian, setelah pemakaman…”
  28. (Perlahan Ayah masuk panggung. Membawa pigura foto anak dan istrinya. Sebentar tertawa sebentar menangis)
  29. Ayah : “Haha… Surti…Siti… Ah kalian cantik sekali! Lama sekali kalian pergi berbelanja. Kapan kalian pulang?.... Oh…. Kompor sialan!!... kalian hangus terbakar. Tidak cantik lagi…. Kalian telah mati?!.. Haha… Hiks…Hiks.. jadi kalian telah mati? Tidak akan belanja lagi? Tidak Hutang lagi?! (tertawa) Haha… aku harus tertawa atau menangis untuk kalian?!... Kenapa?!... kenapa kalian tinggalkan aku dan Darto sendirian….” (menangis )…
  30. Rentenir : (masuk panggung mendekati ayah) “Eh… Pak. Yang sudah mati itu ya sudah! Tidak usah ditangisi. Sekarang yang harus bapak pikirkan adalah bagaimana caranya membayar hutang! Eh, Pak! Utang istrimu itu… sudah mencapai 10 juta! 10 Juta!... bayar hutang itu hukumnya WAJIB! Jadi bapak harus mulai berpikir… tangismu itu tidak akan melunasi hutang istrimu!”…
  31. Ayah : (Mengamati Rentener, berhenti menangis) “Heh… siapa kamu? Kamu… Aha… Oh… Surti? Kamu surti? Istriku?! Kamu… bawa uang 10 Juta?! Benar surti?.....” (mendekati si rentener, tapi rentener itu terus menghindar)
  32. Rentener : (kaget dan bingung) “Oalah…. Lha kok saiki malah STRESS!!...Heh, Pak! Saya kesini itu mau nagih utang, bukan kok mau jadi istrimu yang sudah meninggal itu. Surti! Surti!.... saya itu bukan petugas kemanusiaan. Mana? Bapak itu yang harus bayar utang 10 juta!!...”
  33. Ayah : “Apa…bayar 10 Juta? Utang?!.. Jadi kamu bukan surti…..surti sudah mati?...Surti…..” (bingung lantas menangis memanggil-manggil nama surti)
  34. Rentener : “We….lha STRESS tenan iki… waduh!” (kebingungan.... Pengamen masuk panggung)
  35. Pengamen : (membaca icik-icik, dan menyanyi sambil menari) “Hidup penuh liku…liku… ada suka ada duka…! Tak encrut…encrut!... Hidup penuh Liku-liku… ada suka ada…(melihat ke Ayah yang menangis dan tetangga yang manyun) Eit…. Ada apa ini?... ini menangis… ini marah…” (melihat ke Tetangga) “Oh… anda pasti sudah melakukan KDRT alias kekerasan dalam rumah tangga pada suami anda ya?!wah…anda bisa dituntut!” (dengan gaya sok tahu)
  36. Rentener : (kaget lalu marah) “We…Lha. Pengamen Gemblung Ki!... saya itu kesini mau nagih utang. 10 juta! Lha kok malah dikira melakukan KDRT! Bapak ini baru ditinggal mati anak dan istrinya, kebakaran. Makanya stress… tapi yang namanya utang orang meninggal kalau tidak dibayar itu Dosa! Memberati orang yang meninggal jadi tidak bisa masuk surga!... ngerti?”…
  37. Pengamen : “Oh….yes..yes… anda benar. Istri and anak bapak ini bisa tidak masuk surga nanti.” (mikir)
  38. Rentener : “Nah…jadi saya itu hanya mengingatkan bapak ini saja.”
  39. Pengamen : (menatap rentener dengan menuduh) “Tapi… bapak ini sedang berkabung. Anda kan bisa saja mengatakan, utang bapak saya anggap lunas… istri bapak ini kan bisa jadi masuk surga. Anda juga bisa masuk surga. Gimana?” (rentener makin marah)
  40. Rentener : “Utangnya 10 juta! Bukan kok 10 ribu saja. Saya itu juga butuh uang itu untuk makan. Ah, sudah! Ngomong kok karo cah gemblong. Ra jelas lanang po wadone! Permisi!..” (pergi)
  41. Pengamen : (mendekati Ayah yang masih menangis) “Duch… kasian sekali anda ini, Pak! Karena saya ini baik hati dan tidak sombong, saya akan menghibur Bapak dengan suara merdu saya. Oke?! Satu…dua…tiga….! Hidup penuh Liku-liku… ada suka…ada duka…semua orang… pasti pernah merasakannya...!!.. bagus kan, Pak? Bapak senang? Lagi ah! (memainkan alat musiknya) Satu…dua…tiga…! Hidup…” (tiba-tiba ada orang gila datang menari-nari sambil menyanyi.)
  42. Orang Gila : “Syalala… lala…lala…. (lagu diubah jinggle sarimi terus menari-nari di depan pengamen yang bengong dan Ayah yang mulai tertarik mengamati keduanya) syalala…syalala… syalalala.. lala…lala..lala…lala!” (berhenti dengan gaya teatrikal dan tertawatawa bahagia ke ara pengamen)
  43. Pengamen : “Ssst……! Hey, dilarang teriak-teriak disini… bapak ini sedang sedih! Pergi sana!”
  44. Orang gila : “Heh, siapa kamu? Menganggu saja! Aku ini sedang pentas menari. Lihat… orang-orang pada terpesona padaku… Hahaha… akulah sang juaranya… akulah sang raja dansa !!!...” (membungkuk secara teatrikal pada penonto,n, mendorong si pengamen marah) “Heh, Orang gila! Minggir sana! Aku akan latihan menari lagi. Biar para penonton ini semakin suka padaku! syalala…syalala… syalalala.. lala…lala..lala…lala!”
  45. (orang gila itu terus menari-nari keliling panggung dengan lagu yang sama. Pengamen hanya nyengir melihat tingkah orang gila itu. Ayah mendekati orang gila dan tersenyum)
  46. Pengamen : “Iiidihh! Dasar Sinting!.... eh, Bapak jangan ikut-ikutan orang gila ini! Sini bapak sama saya saja!” (menarik lengan Bapak agar mendekat padanya)
  47. Orang Gila : “Eh, kamu sirik ya!... kamu iri…karena aku ini pandai menari? Haha… ya kan? Kamu sirik. Huh, dasar Gila! Pergi sana!... (mendorong pengamen, lalu bingung mencari kayu yang digantung di leher) “Oh… Hp! Hpku bunyi! Tlolololot….Nih Hpku bunyi kan? Ini pasti Fansku.. Aku angkat ah…:” (menjauh dari pengamen dengan gaya dramatis mengangkat telpon) “Halo!.. halo! Iya…iya… terimakasih… penampilanku dasyat kan? Jelas!... hahaha…. Apa? Tandatangan… wah… pasti aku kasih… mau berapa? Seribu tanda tangan? Wah…hahaha…. Beres. Satu tanda tangan lima ribu ya?Daa….” (tertawa-tawa dan menari- nari)
  48. Pengamen : “Ich…. Benar-benar sinting ini orang. Sudah Gila! Amat sangat GILA sekali!” (jengkel)
  49. Orang Gila : ( mendekati Ayah dan Pengamen) “kalian lihat? Aku ini orang terkenal! Beken di seluruh Dunia. Fansku banyak! Aku itu kaya… (mencari-cari dalam saku dan mengeluarkan potongan kertas-kertas kosong) Nah, ini! Ini… lihat. Aku itu punya uang buanyak! Lihat… ini uang! Berjuta-juta… hahaha….. aku kaya! Kaya!!... kalian mau? Nich….” (ayah tertarik)
  50. Ayah : “Wuah… aku mau! Aku mau! Aku bisa bayar utang istriku dengan uang ini?!” (antusias)
  51. Orang Gila : “Jelas!... bapak bisa membeli apa saja. Mobil? Motor? Rumah? Pesawat?... semuanya bisa bapak beli.” (Mengambil kresek yang digantung di leher juga yang ternyata juga berisi potongan-potongan kertas. Diambil dan diberikan ke ayah sedangkan ayah begitu gembira memasukkan semua dalam saku)
  52. Pengamen : “Eh…Bapak! Aduh… gimana ini? Bapak jangan STRESS dong! Sadar pak! Sadar!”
  53. Orang Gila : (membentak pengamen yang langsung menurut takut) “Sudah diam!” (lalu menarik tangan pengamen yang ketakutan dan ayah yang antusias) “Kalian akan kuberi semua uangku… tapi ada syaratnya… kalian harus ikut menyanyi dan menari bersamaku. Setuju?!” (keduanya mengangguk) “Aku akan ajari kalian menari. Siap?! Heh, kamu yang hitung!”
  54. Pengamen : “Satu…dua…Tiga!...”
  55. Orang gila : (lagu aku seorang kapiten) “aku seorang penari, mempunyai uang banyak. Kalau berjalan… syalala… aku seorang penari…. Bagus!...Bagus! ayo ulangi!... Aku… seorang penari… mem…”
  56. Ayah : “Diam!!!....” (malotot marah ke pengamen dan orang gila yang melongo kaget) “Oh anakku….Istriku.... Heh, Pergi Kalian!... Kalian menganggu istri dan anakku yang sedang tidur tahu?! Pergi!... pergi sana!....” (mengusir orang gila dan pengamen) “Pergiii!!!....
  57. Pengamen dan Orang Gila : “Idiih… Dasar orang gila! Stress!” (mereka lari ketakutan dan bertubrukan dengan tetangga dan Dokter yang baru datang bersama darto yang kebingungan melihat tingkah mereka. Kedua orang itu bangun dan lari pergi.. Dengan heran Tetangga, Dokter, dan Darto mendekati ayah yang sedang tertawa-tawa )
  58. Ayah : “Hahaha….. dasar Bocah Gila!... menganggu saja! Anak dan Istriku kan sedang tidur! Kecapekan baru pulang belanja. Haha….hiks…. tapi…tapi mereka lalu mati! Mati!... aku sendirian… Istriku… kenapa kamu meninggalkan aku?!”… (terpuruk ke lantai… menangis)
  59. Darto : (memandang ketakutan pada ayahnya) “Ba…Bapak!!...” (berjalan mendekati ayahnya diikuti oleh tetangga dan Dokter)
  60. Ayah : “Heh,… siapa kamu?! Pergi!..Pergi!!.. kamu mau menagih hutang lagi, kan?! Atau…kamu mau membakar anak dan istriku, Heh?! Pergi!... cepat…pergi! (menjauh dan menghalangi langkah Darto, lalu mengusir darto yang tengah menangis sedih melihat kondisi ayahnya.)
  61. Darto : “Bapak…ini… Darto!..”
  62. Tetangga : “Pak, Lihat ini anakmu!!...Darto!...”
  63. Ayah : “Tidak!...anakku sudah mati. Hahaha….mereka sudah mati! Anak dan istriku sudah mati! Pergi!... pergi kalian!!” (terus meneriakkan kata pergi sebentar kemudian menangis)
  64. Dokter : “Bu, saya rasa bapak ini terlalu shock sehingga tidak waras. Lebih baik ibu jaga anak malang ini sebisa ibu. Saya yang akan urus bapak ini. Akan saya bawa ke rumah sakit jiwa. Setuju bu?” (terlihat seolah-menelpon, lalu 2 orang perawat datang)
  65. Perawat 1 : “Kami datang dokter. Siapa yang sakit? Apakah…anak ini?” (perawat 1 mendekati Darto)
  66. Perawat 2 : “Ssst..ngawur, ya jelas bapak ini yang sakit.” (kedua perawat mendekati Ayah)
  67. Ayah : (bingung lalu gusar) “Mau apa kalian?! Mau apa, Heh?! Pergi!!...jangan ganggu aku!..”
  68. Perawat 1 : “Mari ikut kami, Pak. Agar bapak sembuh. Percayalah… Mari…” (berusaha menenangkan)
  69. Dokter : “Ya, Bapak lebih baik bapak ikut kami ke rumah sakit. Kami akan merawat bapak sebaik-baiknya hingga sembuh. Ayo kita bawa bapak ini!” (dokter dan kedua perawat berusaha membawa ayah keluar panggung dengan susah payah…)
  70. Ayah : “Lepaskan!...siapa kalian? Pergi!! Pergi!!...”
  71. Darto : “Bapak…. Aku mohon jangan bawa bapakku, Suster!....” ( memegangi baju suster)
  72. Perawat 1 : “Percayalah… Bapakmu akan baik-baik saja bersama kami…” (menenangkan Darto)
  73. Tetangga : “Cepat, Dok! Sekarang kalian bawa saja bapak itu. Saya akan menjaga anak ini.”
  74. Darto : (ingin meraih ayahnya) “Tidak mau!...Bapak!!....Jangan bawa bapakku, Dokter!!... saya mohon!...jangan bawa bapakku, Dokter!” (Sekuat tenaga Tetangga memegang tangan Darto yang terus berusaha melepaskan diri untuk mengejar Ayahnya.)
  75. Tetangga : “Darto… relakan kepergian Bapakmu, Le… biar ia dirawat oleh Dokter itu. Kamu tinggal sama Tante saja, ya?!”
  76. Darto : (Menangis dan berteriak histeris) “Tidak mau!...Bapak!... Bapak!!...Jangan Tinggalkan Darto!!...(lemas) Ba… (mengambil nafas) Bapak…”(diucapkan dengan lirih…lalu pingsan)
  77. Tetangga : “Ah…Darto!”

HENING,…Darto pingsan. Tetangga duduk tertunduk di dekat tubuh Darto… musik menyayat…(keras)

Narator:
Tak ada yang sempurna dalam kehidupan ini. Suka, duka, kecewa, dan nestapa adalah kehendak Allah semata. Silih berganti mengikuti sekenario lakon kehidupan maha karya sang Illahi. Hanya imanlah sang pengendali nurani dan hanya kepada Allah-lah kita kembali. Sesungguhnya, Allah swt. Telah berfirman dalam Surat Al-Baqarah Ayat 153 dan 155, Yang Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan mengerjakan sholat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Dan sesungguhnya, Allah akan memberi sedikit cobaan kepadamu, seperti ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, dan jiwa. Gembirakanlah hati orang-orang yang bersabar.”
(Musik meninggi)
DEMIKIANLAH pemirsa, telah kita saksikan bersama persembahan drama yang berjudul “STRESS” karya : Ibu Yulian Istiqomah, S.Pd. Kami segenap kru yang terlibat mengucapkan terimakasih dan SAMPAI JUMPA!! (The-End)

Friday, 25 September 2009

Kupas Tuntas:Pementasan Drama “Atas Nama Ibu”


MTsN Sumberagung memiliki banyak ekstrakulikuler (Volly, Sepakbola, elektro, drumband, menjahit, musik, jurnalistik, dll). Salah satu dari kegiatan ekstra tersebut adalah Teater, yang dikenal dengan nama Teater Fatwa.
Klub Teater Fatwa berdiri tanggal 15 Februari 2008. Bias dibilang masih seumur jagung alias belum banyak sepak terjang. Namun teater Fatwa dapat dijadikan sebagai wadah bagi para siswa untuk mengasah kemampuan diri menjadi siswa yang kreatif, inovatif, dan percaya diri.
Para anggota klub bukan saja dapat mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya di kelas, tetapi juga mendapat banyak ilmu dan pengalaman tenatng dunia peran. Tidak semudah yang mereka bayangkan, namun mengasyikkan untuk dipelajari dan terus menggali kompetensi diri.
Apa yang hanya dapat mereka lihat di layar kaca, dalam Teater Fatwa dapat mereka pelajari bersama. Mulai dari tat arias, tata kostum, tata panggung, property, piƱata music, sutradara, produser, sampai mempelajari bagaimana mendalami suatu peran tokoh dalam naskah. Dengan kata lain, Klub Teater Fatwa adalah gambaran kecil dunia Entertaint di MTsN Sumberagung, atau kita sebut dengan “Bengkel Sastra”-nya MTsN Sumberagung.

Dengan menciptakan dunianya sendiri melalui seni peran, para siswa dapat mewujudkan impian mereka, karena dalam suatu karya sastra, segalanya dapat menjadi nyata.
Melalui Buletin Fatwa, siswa dapat menguraikan pengalaman mereka dalam bentuk tulisan dan mengasah bakat menulis mereka. Buletin Fatwa terbit secara berkala, disesuaikan dengan event pementasan klub Teater Fatwa. Dengan menggilir tim redaksi Buletin Fatwa pada seluruh anggota, diharapkan siswa akan memperoleh ilmu dan pengalaman yang merata.
Di bawah bimbingan Ibu Yulian Istiqomah, S.Pd. dan Ibu Lutfiatul Khasanah, S.Pd. Klub Teater Fatwa dan Buletin Fatwa dapat berkembang secara beriringan sebagai perintis organisasi yang bergelut dalam dunia peran dan sastra di MTs, yang bila diamati, hal sepeti ini jarang dimiliki oleh SMP/MTs lain di Kabupaten Bantul.
Suatu kewajiban berat bagi Klub Teater Fatwa sebgai perintis keberadaan Klub Teater di MTs/SMP, untuk menampilkan pementasan yang baik, demi memperoleh respon positif masyarakat dan demi eksistensi Klub Teater itu sendiri.
Untuk pementasan perdana, Klub Teater Fatwa yang beranggotakan 45 orang ini, mengadakan berbagai macam latihan dasar sebagai langkah awalnya. Latihan dasar tersebut meliputi olah tubuh, olah vocal, dan olah sukma. Latihan tersebut berlangsung selama 3 kali pertemuan.
Dengan bantuan Supervisor Arif Nurdiansyah dan Muklis Aryadi (Mahasiswa PBSI-UNY) para siswa dapat mempelajari latihan dasar dengan baik. Pada pertemuan keempat dengan bantuan Mas Arif dan Mbak Retno (mahasiswa PBSI-UNY) para siswa bermusyawarah memilih naskah yang akan dipentaskan dan melakukan casting (audisi pemain) pada pertemuan kelima. Setiap anggota bersaing dengan yang lain untuk memperoleh peran yang diinginkannya.
Setelah diperoleh 10 pemain untuk naskah “Atas Nama Ibu”, para siswa yang tidak lolos casting bergabung dalam tim produksi dan saling member dukungan satu dengan yang lain, sebagai satu tim. Seperti yang selalu ditekankan oleh Bu Yulian dan Bu Lutfi. Disiplin, bertanggungjawab dalam tugas, dan bekerja sama dengan sesame anggota. Oke kan prinsip-prinsip dalam klub Teater Fatwa?!.....(Redaksi)

Thursday, 24 September 2009

Pementasan Drama "ATAS NAMA IBU" (Pensi Th. 2008)


Pelindung: Dra. Ening Yuni S.A.,MA.
Pembimbing:
Yulian Istiqomah, S.Pd.
Lutfiatul Khasanah, S.Pd.
Sekretaris: Isti Anifah
Bendahara: Devi Ristyani

Crew Produksi

Penata Rias:

Halimah, Siska, Mei, Pipit, Ambar, Nova, Sela,Mey, dan Liya.
(Buat mereka menjadi cantik ya!)


Penata Kostum:

Mustanganah, Inaka, Siska, Eni, Ade, Fitri, Erni, Retno, Rohma, Cyndy.
(Carikan baju yang sesuai, oke?)


Penata Panggung:

Nurul, Surya, Mela, Tami, Hastin, Novela.
(Meski harus angkat2, semangat ya!)


Properti:

Isti, Anis, Septi, dan Marlina
(Hei, jangan lupa Rantang untuk tokoh tetangga ya!!)


Penata Musik:

Risti, Ayu, Eva, Devi
(Nyantai saja,dibantu bu Yulian Kok!)


Aktris/Aktor Picture

Sutradara: Muklis Aryadi

Pimpro: Erwin Dwiyanti

Narator: Ulfatun

Pemain:

Yuli Sebagai Santi Fahmi sebagai Tetangga

Riani sebagai Dina Nurlela sebagai Suster

Sri M. sebagai Nike Fuat sebagai Pak RT

Nurul sebagai Monika Bayu sebagai Dokter

Heri sebagai Polisi


Sinopsis Cerita “Atas Nama Ibu”
Cerita dalam drama ini mengisahkan tentang kehidupan seorang anak yatim yang teramat mencintai ibunya yang hanya selalu merintih kesakitan selama bertahun-tahun. Sang anak (Dina) adalah anak yang cerdas dan dikenal sebagai pribadi yang baik.
Suatu hari, terjadi peristiwa yang tak terduga terjadi pada keluarga Dina, secara tiba-tiba sang suster mendapati Ibu Dina kritis bahkan hamper meninggal. Keibutan dan saling tuduh pun terjadi hingga akhirnya tetangga, teman-teman Dina, dan tetangga Dina pun sepakat untuk melaporkan Dokter dan suster yang selama ini telah merawat ibu Dina ke polisi yang kebetulan adalah ayah Monika, teman Dina.
Namun, sungguh tidak disangka ternyata dokter dan suster yang merawat Ibu Dina adalah sahabat sang polisi dan telah selama bertahun-tahun turut mambantu polisi mengotopsi mayat-mayat misterius. Di tengah, ketegangan yang berlangsung, Dina akhirnya mengaku bahwa dialah yang telah meracuni ibunya sendiri. Mengapa Dina membunuh ibunya sendiri? cari jawabannya, dengan menyaksikan secara langsung pementasannya!...

Opini: “Apa Kata Mereka Tentang Teater Fatwa dan Sekolah Kita?”
Oleh: Bu Yulian Istiqomah, S.Pd.

Teater Fatwa merupakan “Bengkel sastranya” para siswa di MTsN Sumberagung Jetis Bantul. Siswa dapat mengaplikasi dan mengembangkan pengetahuan mereka. Dengan terus berkarya dan mengembangkan diri melalui Teater Fatwa, para siswa secara tidak langsung dapat turut berperan serta dalam memajukan sekolah, yaitu MTsN Sumberagung tercinta ini.
Riani Dwi Astuti (8.A):
Setelah bergabung dalam teater Fatwa, saya jadi lebih percaya diri dan yakin bahwa kita itu bias berkarya dalam bentuk apapun. Saya bangga menjadi bagian dari Teater Fatwa dan MTsN Sumberagung, saya lebih kreatif dan lebih rajin beribadah.
Pendapat yang sama juga disampaikan oleh siswa-siswa lainnya, seperti Heri W. (8.A), Devi R. (8.A), Yuli (8.A), dan Ade (8.A). Jadi, pada dasarnya para siswa merasa bangga menjadi siswa-siswi MTsN Sumberagung dan bertekad untuk selalu
mengembangkan diri dan berprestasi. Oke, deh. Chayo untuk MTsN Sumberagung!!.....

Friday, 18 September 2009

KLUB TEATER FATWA sebagai wadah EKSPRESI siswa



Assalamu'alaikum....sobat FATWA...
Klub teater sekolah kami memang belum lama eksis, namun hal yang luar biasa sudah kami dapatkan. Dalam eskul Teater FATWA di MTsN Sumberagung ini, kami benar-benar bebas melakukan apa yang kami inginkan dengan meng'creat' kan keinginan kami dalam latihan-latihan atau lakon-lakon yang kami perankan.
Wuah....kalian yang cinta pelajaran Bahasa Indonesia atau Seni, mesti gabung dalam klub ini. Dunia Entertaint mini kita yang dapat kita jadikan sebagai wadah kita untuk berekspresi dan bermimpi.
Syukur alhamdulillah... perkembangan IT semakin mempermudah kami untuk merangkul teman-teman dari dalam sekolah maupun luar sekolah. Jadi, sobat FATWA semua dapat terus mengikuti perkembangan kegiatan-kegiatan kami. Mari berekspresi untuk menuju puncak prestasi!!... (salam Redaksi)
Wassalamu'alaikum wr.wb.