Oleh: Yulian Istiqomah, S.Pd. Sudah menjadi opini umum bagi siswa bahwa menulis itu ‘sulit’. Akan lebih mudah bagi mereka untuk berbicara daripada menulis. Pada umumnya, para siswa lebih suka melihat, mendengarkan, dan berbicara daripada menulis. Hal inilah yang menyebabkan pembiasaan menulis bagi siswa menjadi tampak sulit dilakukan. Menulis diary atau yang sering dikenal dengan istilah buku harian merupakan kegiatan menulis yang dianggap paling mudah untuk dilakukan. Siswa tidak harus berpikir terlalu rumit untuk mencari bahan tulisan. Semuanya sudah ada dalam pikiran dan perasaan mereka sendiri yang bersumber dari pengalaman, pengamatan, maupun pemikiran mereka tentang suatu hal. Di samping itu, tidak ada batasan isi dan bentuk dalam menulis diary. Mereka bebas berekspresi melukiskan suasana hati dan pikiran mereka, kapan saja dan di mana saja.
Dengan maraknya pendidikan berkarakter saat ini, Diary menjadi salah satu sarana atau wadah untuk menampung keluhan siswa sekaligus mengimplementasikan materi ‘menulis diary’ dalam mapel Bahasa Indonesia. Melalui diary, guru akan lebih mudah melakukan pendekatan personal pada siswa, sehingga dapat mengetahui latar belakang kehidupan, motivasi, maupun kondisi emosional siswa. Hal ini dapat memudahkan guru dalam menangani siswa yang bermasalah atau tampak tidak termotivasi untuk mengikuti pelajaran.
Diary bersifat rahasia. Ini komitmen yang harus dipegang oleh guru bila ingin mendapat kepercayaan siswanya. Mereka perlu dibuat nyaman dan diyakinkan bahwa rahasia mereka aman untuk dituangkan dalam diary mereka. Tentunya setiap siswa memiliki masalah yang mengganggu konsentrasi belajar mereka dan berharap akan mendapat solusi yang terbaik dari guru yang mereka ijinkan untuk membacanya. Dengan demikian, guru akan dapat dengan mudah mengarahkan dan memberikan masukan yang positif bagi pembenahan karakter dan penyelesaian masalah siswa.
Semakin banyak siswa tertarik untuk menulis diary, maka pekerjaan seorang guru tentu akan semakin menumpuk, karena harus mengomentari setiap catatan harian siswa yang tentunya mereka nantikan jawabannya. Dalam hal ini, fungsi diary dapat berbelok menjadi semacam buku konsultasi. Namun, guru yang baik tidak hanya dapat menyampaikan materi dengan baik saja, namun juga hendaknya dapat menjadi sosok yang selalu ‘dicari, dibutuhkan, bahkan dirindukan’ oleh para siswanya. Dengan demikian, diharapkan proses pembelajaran pun akan berlangsung dari hati ke hati dan materi yang disampaikan pun akan terus terpatri hingga akhir hayat mereka nanti.
No comments:
Post a Comment